Minggu, 11 November 2012

Aku Cuma Pengen Kamu Tahu


Hei, kamu.
Kamu yang udah aku anggap, sebagai seseorng yang spesial dikeseharianku
Ini aku.
Dengan segala kekurangan yang ga pantas kamu banggain.
Aku ga tw kamu lagi ngapain sekarang.
Aku juga ga tw kamu lagi sama siapa sekarang.
Dan aku juga lebih ga tw, apa aku masih berhak buat mengenal kamu
Aku ga tw.
Aku cuma pengen kamu tw.
Aku capek jadi seseorang yang slalu ada untuk kamu
Aku cuma pengen kamu tw
Aku pengen punya lebih yang kamu rasain ke dia, aku rasain juga.
Kamu tw kan, menunggu seseorang itu gimana rasanya?
Sebenarnya sih, aku ga ada pengen buat terus-terusan nungguin kamu.
Tapi ga tw kenapa, hati ini malah penuh duga ke kamu.
Ga ada jawaban, malah luka yang datang.
Kamu tw kan cmuburu itu gimana rasanya.
Bohong kalo aku sering bilang, aku ga cemburu liat kamu sama dia.
Ya aku cemburu.
Karna aku udah anggap kamu sebagian dari hidup aku.
Lama juga ya, aku setia jadi pendengar kamu.
Ikut ngejagain hati kamu.
Tapi kamu ga pernah tw kan?
Sebenernya aku pengen banget, hubungan ini lebih dari dia.
Apa kamu tw, aku cukup menderita, karna keadaan ini.
Ga tw ya?
Gapapa kok.
Aku juga ga pengen kamu tw.

https://soundcloud.com/misteeerius/aku-pengen-kamu-tau

Sabtu, 10 November 2012

Sejarah Pemikiran Jepang : MAKNA HISTORIS PERALIHAN DARI ALAM KE PENEMUAN




Dalam masyarakat manusia ada dua macam ikatan sosial yang pada dasarnya saling bertentangan. Yang pertama adalah ikatan yang ada di hadapan individu sebagai sesuatu yang sudah “jadi”. Yang kedua adalah ikatan yang dibentuk individu berdasarkan kehendak bebasnya. Pada yang pertama, pola ikatan sosial mempunyai suatu bentuk obyektif dan pasti, dan inividu menyesuaikan diri dengan pola ini seolah-olah ia ditakdirkan untuk berbuat demikian. Pada yang kedua, individu mempunyai suatu rencana, dan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuannya, ia menjalin suatu hubungan-hubungan sosial yang baru. Dengan demikian tidak pola obyektif dan pasti dalam cara ikatan sosial ini, ikatan tersebut berbeda-beda menurut tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Tentu saja, hubungan sosial yang banyak sekali itu yang ada dalam kehidupan nyata tidaklah terbatas pada kedua tipe ini. Kedua tipe ini hanyalah tipe ideal yang merupakan dua bentuk kutub ikatan dalam masyarakat manusia, dan hubungan sosial yang sesungguhnya berada dalam jenjang nuansa yang tak terbatas antara kedua kutub tersebut.
Di Eropa para cendekiawan yang mempelajari secara historis kebangkitan masyarakat modern, baik dari segi hukum maupun dari segi sosiologi, telah menemukan bahwa dalam perjalanan perubahan-perubahan historis yang merintis terbentuknya masyarakat borjuis modern dalam sistem feodal abad pertengahan yang sudah mulai mundur, ikatan-ikatan sosial tipe kedua mulai menggantikan ikatan-katan sosial yang pertama, dan para cendekiawan tersebut mengajukan berbagai macam usulan untuk menjelaskan perubahan ini. Gagasan seperti “dari status ke kontrak” dan dari Gemeinscaft ke Gesselscaft merupakan usaha nyata dari kegiatan ini.
Generelasisasi ikatan Gesselscaft dapat dengan jelas ditempatkan pada suatu tahapan historis, kurang lebih tahapan historis masyarakat modern, tetapi cakupan historis pengaruh Gemeinscaft sama sekali tidak jelas dan kabur sebelum terbentuknya masyarakat borjuis. Akibatnya, Gemeinscaft mengabaikan perubahan historis yang terjadi ketika sistem komunal primitif runtuh dan suatu pola kekuasaan terbentuk.
Freyer membagi Gemeinscaft menjadi dua tahap untuk membentuk pembagian  tiga tahap dari Gemeinscaft, Stand gesellscaft, dan Klassengesellscaft. Masayarakat feodal ditempatkan  dalam kategori  Gesselscaft sebagai suatu Standesgessellscaft, yaitu sebagai suatu masyarakat yang di dasarkan atas status warisan (misbunsakai).
Pada akhir zaman pertengahan dan pada permulaan jaman modern di Eropa, ikatan-ikatan sosial dari tipe kedua dengan cepat mulai menggantikan ikatan-ikatan tipe pertama. Manusia abad pertengahan memandang prototipe dari semua hubungan sosial itu adalah lembaga-lembaga alamidan yang harus ada seperti keluarga (societates necessariae). Manusia modern berpandagan bahwa di manapun dimungkinkan, hubungan sosial haruslah didasarkan atas kehendak bebas individu (societates vountariae)
Tonies menulis dalam menjelaskan perlawanan antara Wesenwille (kehendak alami) dan Kuerwille (kehendak rasiona), Tonies menunjuk pada kebalikan dari hubungan antara sistem sosial dan manusia yang terjadi dalam peralihan dari masa abad pertengan ke abad modern. Dengan demikian kita sepakat dengan Gierke, bahwa “alam pikiran abad pertengahan berasal dari gagasan tentang suatu keutuhan tunggal”
Dapat disimpulkan bahwa pergeseran dari alam berpikir Chu His, yang memandang sistem politik dan sosial ada dengan sendirinya di langit dan di bumi, bagi logika aliran sorai, yang berpandangan bahwa mereka itu ditemukan oleh manusia sebagai pelakunya, sesuai kurang lebih dengan perubahan yang terjadi dalam kesadaran sosial “abad pertengahan” yang diuraikan di atas. Di lain pihak, Sorai memahaminya sebagai suatu sistem yang ditemukan oleh para raja awal yang dengan sepenuhnya menggunakan akal sehat mereka dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan mendatangkan perdamaian kepada manusia .
Tidak dapat disangkal bahwa alam berpikir masa Tokugawa awal, didasarkan atas konsep tentang alam, sesuaidalam maksud subyektifdan isi obyektifnya dengan Gemeinscaft. Sebaliknya, walaupun tujuan yang sadar akan konsep sorai mengenai penemuan merupakan suatu Gemeinscaft, konsep ini jelas diresap dengan logika suatu Gesellscaft.
Aliran Chu shi berhasil menjadi suatu bentuk cara berpikir politik dan sosial yang berpengaruh dengan dibentuknya masyarakat feodal Tokugawa tidak hanya konsep tatanan alam yang dianutnya sesuai dengan kebangkitan masyarakat feodal tetapi juga secara khusus alam pikiran. Chu shi cocok untuk masyarakat feodal. Sistem chu shi yang mengidentifikasi norma-norma dasar masyarakat feodal, yaitu, kelima hubungan, dengan sifat ontologis pada dua tingkat, secara paling efektif menyajikan dan memberikan dasar teoritis bagi suatu pemahaman tentang tatanan sosial semacam itu. Dasar metafisika terdalam filsafat Chu shi jelas terletak dalam penalaran organik, yaitu, yang maha tinggi, azas dasar dari tatanan alam semesta, adalah akar penyatu dunia, dan pada waktu yang sama merupakan suatu kekuatan khusus yang ada dalam segala hal dan memberi nilai yang tertinggi. Seorang pemikir zaman Tokugawa dengan cerdiknya membandingkan hubungan  ini dengan “bulan yang dipantulkan ke sawah”. Kegiatan-kegiatan yang ada menguasai segala sesuatu, langit dan bumi terulang dalam miniatur dalam prilaku etis dari salah satu makhluk di langit dan di bumi, manusia. Otto von Gierke menatakan tentang ide mengenai masyarakat Eropa abad pertengahan.
Kepada setiap makhuk diberukan tempat dalam keseluruhan, dan bagi setiap hubungan antara sesuai dengan keputusan Ilahi. Tetapi karena dunia merupakan satu organisme, yang digerakkan oleh satu roh, dibentuk oleh satu kekuasaan, azas-azas yang sama yang muncul dalam struktur dunia akan muncul sekali lagi dalam struktur setiap bagian. Karenanya setiap makhluk khusus, sejauh itu merupakan keseluruhan, merupakan suatu miniatur dunia, suatu mikroorganisme atau dunia kecil yang memantulkan mikroorganismeatau dunia dasar.














Kamis, 08 November 2012

Perilaku Pria yang Membuat Wanita Kesal


Rasa kesal pasti ada dalam diri tiap manusia terutama kesal terhadap perilaku pasangan. Kali ini kita akan bahas perilaku pria apa saja yang bisa membuat para wanitanya kesal. Berikut adalah beberapa prilaku tersebut.

1. Obral janji
Sebaiknya para pria tidak terlalu mudah untuk mengobral janji. Ketika mereka melakukan hal ini, maka banyak wanita yang akan kesal dibuatnya. Sebagian besar para pria akan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama tapi nyatanya dia selalu mengulangnya. Karena itu pula, maka kaum wanita akan berpikir kalau pacar mereka hanya bermain-main saja dengan janji yang mereka buat sendiri.

2. Berlagak paling hebat
Memang benar kalau pria jauh lebih kuat daripada wanita. Karena itu pula kaum pria memiliki ego tersendiri untuk terlihat hebat atau berlagak paling hebat di depan wanita. Para pria mungkin berpikiran kalau mereka tidak memperlihatkan sisi lemahnya maka para wanita tidak akan memandang mereka lemah. Justru dengan mereka selalu berlagak hebat membuat wanita jengah melihatnya.

3. Sering lupa
Pria memang cenderung tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang bersifat detail seperti wanita. Bagi mereka hal-hal kecil seperti itu bukanlah masalah yang harus terlalu diperhatikan. Jadi tidak heran jika para pria akan sering lupa dengan hal-hal yang mereka anggap tidak terlalu signifikan. Tapi justru hal tersebut bertentangan dengan wanita dan sebagai dampaknya wanita akan dibuat kesal karenanya.

4. Egois dengan dunianya
Ada yang bilang di dalam diri seorang pria ada sisi anak-anak yang tidak akan lepas dari dirinya. Hal inilah yang bisa membuat kesal wanita kalau meilhat pria terbenam dengan dunianya. Mereka pasti akan jadi egois. Mereka akan lebih mementingkan games-nya dibanding harus menjemput pacarnya atau menonton pertandingan tim favoritnya dibanding harus berlama-lama menemani pacarnya berbelanja.

5. Berkomentar soal fisik wanita
Ketika pria sedang berkumpul dengan teman-teman prianya, mereka pasti akan mengomentari tiap fisik wanita yang lewat di depan mereka. Kita, para wanita, juga sering melakukan hal yang sama. Tapi ketika statusnya kita sudah memiliki pacar, alangkah lebih baik jangan terlalu mengomentari fisik wanita lain. Akan lebih baik kalau ingin melakukannya bersama teman-teman prianya ketimbang di depan kita. Bisa-bisa kita dibuat makin kesal karenanya.

6. Pura-pura bodoh
Pria memang tidak mau dibuat ribet dengan mood wanita yang turun naik terutama ketika sedang berselisih dengan wanita. Bagi mereka, lebih baik menghindar untuk beragumen dan langsung pada inti permasalahan. Justru dengan mereka seperti itu, wanita akan jadi lebih kesal. Kita akan berpikir kalau mereka tidak peduli dengan kita.

Selasa, 23 Oktober 2012

Cinta Kampung !



Sekarang, mampu berbicara tentang hal-hal yang bersifat nasional, sudah menjadi tren tersendiri untuk beberapa anak muda. Berbicara menggunakan istilah khusus pun menjadi kebanggaan tersendiri. Semua seakan berlomba-lomba untuk mencari kesempatan berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya tidak mereka mengerti seutuhnya. Sok mencaruti korupsi pada dunia politik, tapi ujian masih menyontek. Bukankah korupsi dan menyontek memiliki dasar kesalahan yang sama yaitu berbohong? Lantang mengomentari perekonomian yang cacat dan sebagainya, tapi belum mampu berpikir kritis untuk membangun industri kreatif. Berani memperdebatkan masalah pendidikan, tapi tidak pernah menghadirkan model pembelajaran inovatif. Dan sebagainya. Ikut berbicara pada sebuah masalah tanpa bijak mengadvokasi.
Sebenarnya tidak masalah jika memang berbicara atas dasar data, pengertian, fakta, atau sejarah yang benar dan menghasilkan solusi yang nyata. Nah, masalahnya sekarang, tren aneh tersebut malah dijadikan ajang keren-kerenan. Coba analisis secara sederhana saja, generasi macam apa yang akan tercipta?
Mayoritas media pun begitu, semua seakan saling membius dan dibius oleh segala macam pemberitaan pusat, sehingga melupakan banyak hal kecil yang perlu dibenahi dari lingkungan kita sendiri. Terhipnotis pada hal-hal besar, meremehkan hal-hal kecil, akhirnya semua usaha dan pekerjaan menjadi tidak semaksimal yang semestinya. Kita lihat saja tema diskusi-diskusi yang ada di sekeliling kita. Ada diskusi bela negara, diskusi UU Perguruan Tinggi, diskusi pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Semua diskusi kebanyakan hanya berupa pemberian materi secara kaku, akhirnya diskusi akan berakhir mengambang, tanpa ada aksi tindak lanjut yang bermanfaat. Pernah tidak terbersit untuk mendiskusikan kebersihan toilet umum di Padang atau kebiasaan cimeeh orang Padang? Silakan menertawakan diri sendiri.
Tulisan ini sekedar ingin mengajak teman-teman untuk tidak melihat terlalu jauh dan mengambang. Coba kritis pada hal dasar yang akan memperkaya budaya dan mempengaruhi peradaban kita. Mulailah segala sesuatu dari diri sendiri dengan menjernihkan hati.
Saya sedang bermimpi mengupas kearifan lokal bersama teman-teman muda. 
Kita mengenang aset genetik Padang, seperti siamang dan beruk. Menciptakan merchandise unik dengan mencoba mengabadikannya dalam produk kreatif, seperti kaos, gantungan kunci, bahkan boneka. Menjualnya secara merata pada setiap toko terutama di lokasi wisata dan turisme.
Setelah itu saya mencicipi kekhasan cita rasa makanan atau kuliner tradisional pada kunjungan ke Festival Kuliner Ketan. Ada lamang tapai, beragam lapek, galamai, beragam bubur, dan kue-kue an. Sayapun menikmati bubur ketan hitam kesukaan saya. Wah, ramai sekali pedagang yang menebar senyum di sini.
Kemudian saya berterimakasih pada tim yang bekerja fokus dan memaksimalkan pelayanan pada daerah pariwisata Padang. Tiba-tiba saja saya berada di Bukittinggi dalam kereta api yang bergerak menuju Pantai Padang. Perjalanan yang luar biasa, bibir pantai begitu bersih dan pergerakan wisatawan terkontrol dengan tertib.
Seakan dipermainkan mesin waktu, saya baru saja mendarat dan sedang berjalan pada koridor bandara menuju hotel. Mereka memberikan atmosfir tradisional yang kental pada tempat-tempat yang terkait wisata dan turisme. Mulai dari kuliner lokal pada kafe-kafenya. Lagu dan instrumen musik lokal diputar mendengungkan telinga, Bahkan tarian beserta pakaian lokalnya ditampilkan pada lobi. Bukan hanya orang asing berambut pirang saja yang ikut meramaikan. Teman-teman muda pun banyak yang berusaha mengabadikan momen tersebut dalam kamera jinjingnya.
Kemudian, adik-adik saya mulai terangsang ikut melahirkan dan melestarikan produk lokal Padang yang unik, di mana saja.
Ahh, mimpi indah.
Mengusap keringat pada dahi, lalu membatin, saya mencintai kampung saya.



Jumat, 19 Oktober 2012

Sekilas Tentang Instrukturku

-->
-->
 Berbekal pengetahuan yang tidak seberapa, saya pun melangkahkan kaki keluar dari Gedung Auditorium Gubernur dengan bingung. Sosok seperti apa yang akan saya jadikan objek reportase saya? Sayapun melirik arloji hadiah dari mama tahun ini. Sudah pukul 15.45. Saya harus kembali lagi ke sini, pukul 17.30. Tiba-tiba saya teringat pukul 16.00 saya ada jadwal Sekolah Public Speaking dan Retorika Indonesia di Gedung RRI, tanpa ragu saya segera menuju TKP.
Sesampainya di lokal belajar pada salah satu ruangan di Gedung RRI, saya kembali melirik arloji. Masih pukul 15.50, sementara belum banyak peserta yang hadir. Saya terdiam sebentar dan kembali mengingat tugas reportase dari Bang Iwan. Saya langsung membatin, bagaimana kalau sang instruktur yang saya jadikan objek? Segera saya menorehkan pertanyaan-pertanyaan mendasar pada secarik kertas. Lalu menemui beliau di kursi belakang ruangan.
“Tidak, saya tidak sibuk. Ada apa?”
Jawaban yang saya harapkan, membatin sendiri.
 “Oh, tugas reportase? Boleh.. Boleh..”
Seketika itu juga saya lega. Satu persatu jawaban mengalun indah menemani setiap pertanyaan yang terlontar dari bibir saya. Perkenalkan, Nofrion Sikumbang, lebih sering dipanggil Pak Dion. Ia merupakan kepala Sekolah Public Speaking dan Retorika Indonesia (SPSRI) di RRI untuk dua tahun belakangan ini. Prestasi yang didapatkan dalam perjalanan, membuat ia diberi kepercayaan untuk amanat tersebut.
Dalam perjalananannya, melalui SPSRI, Dion berharap peserta didik bukan hanya sekedar bisa, tapi mampu berkomunikasi dengan etika yang benar. Walau SPSRI bersifat pendidikan non formal, banyak sekali tamatan peserta didik yang sangat terbantu, terutama ketika dalam dan mencari pekerjaan. Tamatan peserta didik juga ada yang sudah menjadi penyiar dan reporter. Menurutnya, kemampuan komunikasi merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, di mana pun juga.
Pertemuan kali ini adalah pertemuan ketiga SPSRI dalam periode ini. Dion sosok komunikan ramah dan murah senyum. Pembawaan yang menarik, membuat suasana belajar menjadi tidak kaku dan menyenangkan. Setiap sepuluh menit ada saja gelak tawa dari peserta didik, hasil dari lelucon yang dilontarkannya. Benar-benar komunikan yang pantas sebagai instruktur SPSRI, batin saya. Ada rasa kebangaan tersendiri memiliki kesempatan mengenalnya.
Di balik kemampuan komunikasinya, sosok yang tetap bangga menempelkan suku Sikumbang pada namanya ini, ternyata memiliki cita-cita sederhana. Menjadi guru. Dion ingin menjadi orang yang bermanfaat dan merasa tertantang dalam hal berbagi ilmu dengan sesama. Konon ceritanya, dulu saat bersekolah di kota kelahiran, Solok, banyak guru yang sering bolos mengajar karena sakit. Dan hal itu yang mendorong mengapa ia ingin menjadi guru. Seakan-akan matanya ingin menyampaikan, berbagi ilmu adalah perbuatan mulia dan harus dilestarikan. Tekad dan kerja keras benar-benar membuat ia meraih cita-citanya dan sekarang bekerja sebagai Dosen Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) di Universitas Negeri Padang (UNP). Bukan itu saja, ketulusan niat menjadi tenaga pendidik membuat ia menyandang Dosen Luar Biasa Poli-Unand Jurusan Bahasa Inggris, Konsentrasi Public Speaking dan TV/Radio Broadcasting. Selain menjadi kepala SPSRI, saat ini ia juga aktif menjadi Penyiar Pro1 dengan program unggulan “Pelangi Edukasi”. Benar-benar pendidik, batin saya lagi.
Bapak kelahiran 11 November 1978 ini merupakan putera kedua Bapak Asmar dan Ibu Nurjida. Maret 2003 lalu, ia lulus S-1 Pendidikan Geografi, Yudisium Dengan Pujian. Pada masa kuliah, gelar Mahasiswa Teladan dan Juara LKTI Kelompok IPS juga berhasil ia raih. Tidak sedikit prestasi yang tercatat. Beberapa diantaranya, juara 1 Pria Lomba LP2P4 Tingkat Nasional tahun 1997, juara 1 MSQ Tingkat Sumatera Barat tahun 1999, juara 1 Pidato HIPORI Nasional tahun 2000, Pembawa Acara dan MC Terbaik Sumatera Barat tahun 2000, Pembaca Berita, Radio/TV Terbaik Sumatera Barat tahun 2000, Penyaji Terbaik Tingkat Nasional dalam PIMNAS tahun 2003, dan juara 1 Pemilihan Penyiar RRI yang membuat ia dikontrak sebagai Penyiar Pro2. Prestasi yang cukup berkesan baginya adalah Peserta Terbaik LPJ CPNS Golongan III tahun 2010 dan Juara 2 Kompetisi Suara Kencana Nasional tahun 2010.
Niat berbagi ilmu dan keterampilan telah Dion wujudkan dengan mendirikan Pusat Pengembangan Potensi Anak (P3A) Sakinah, khusus bagi Anak Jalanan di Kota Padang (2003-2004), Announcer And MC Course (2007), dan Sekolah Public Speaking dan Retorika Indonesia (2011). Kemampuan komunikasi yang patut diacungi jempol, membuat ia memperluas ranah permainannya. Sehingga pernah diundang menjadi pembicara dan instruktur sebuah acara  hingga ke Pulau Jawa
Banyaknya prestasi dan kepercayaan-kepercayaan berkelas yang telah diraih, tidak membuat ia berhenti bercita-cita. Tidak banyak Putra Minangkabau yang peduli dengan generasinya, seperti Dion. Sekarang, ia berharap sekali dapat mendirikan lembaga pembelajaran atau kursus terkait kemampuan komunikasi dengan konsentrasi sosial dan media, namun bersifat tidak komersil di Sumatera Barat, khususnya Padang. Hal ini mengingat mahalnya biaya untuk pelatihan komunikasi di Indonesia. Sementara dalam hasil survei National Association of Colleges and Employers, USA, 2002 (disurvei pada 457 pimpinan), kemampuan komunikasi adalah softskill nomor satu yang dianggap penting. Dion pun sudah mulai mengupayakannya, mendiskusikannya, juga melakukan seminar-seminar pendukung, tetapi masih menunggu investor-investor yang mau membantu dan lebih peduli pada peningkatan softskill generasi muda bangsa di Sumatera Barat.
“Sebelumnya, mendirikan SPSRI juga memiliki kendala-kendala tersendiri, terutama dalam hal birokrasi.” ungkap Dion.
Seharusnya pihak terkait bisa menilik hal ini dengan lebih cerdas, mengingat tingkat urgensi softskill yang satu ini, lagi-lagi saya membatin.
Awalnya, minat Dion akan dunia komunikasi bukannya tidak memiliki hambatan. Minimnya ketersediaan tempat kursus terkait di Padang, merupakan salah satunya. Beruntung sekali, pria dengan dua orang anak ini, lahir dan dibesarkan oleh orangtua yang juga sebagai tenaga pendidik. Sehingga dalam aktivitasnya, ia mendapat didikan, latihan, dan dukungan yang sehat dari kedua orangtua. Ia pun tetap semangat belajar otodidak (melalui buku dan menghadiri pelatihan-pelatihan terkait). Kini, Dion pun lebih nyaman dikategorikan sebagai tenaga pendidik, daripada sebagai public speaker.
Beberapa catatan pelatihan yang pernah beliau ikuti :
1.      Pelatihan MC dan Announcer Telkom persiapan MTQ Telkom Tingkat Nasional tahun 2000.
2.      Pembekalan Pewara dan MC MTQ PTP Nusantara tahun 2000.
3.      Pelatihan Pekerja Sosial dan Pendamping Orang Tua Anak Jalanan Program ADB dan APBN tahun 2000.
4.      Workshop Internet Bersama Roy Suryo tahun 2000.
5.      Workshop Pewara, MC, Moderator, dan Presenter LPP RRO tahun 2002, 2004, dan 2008.
6.      Pelatihan Pewara/MC Departemen Agama Sumbar tahun 2004.
7.      In House Training Dunia Siaran Radio, Pelatihan Program Radio Berbasis Multimedia tahun 2008.
8.      Pelatihan Dosen Muda Berkepribadian Unggul Dan Dosen Penasehat Akademik tahun 2010.
“Cerdas dalam intelegensi dan cerdas kemampuan berkomunikasi.” harapan Dion di penutup pembicaraan kami sore ini, sambungnya, “Kemampuan berkomunikasi merupakan pencitraan tersendiri sebagai seorang pribadi.”
Ia pun menyarankan, generasi muda, mahasiswa khususnya, agar aktif belajar tentang apapun di lingkungannya, membuka cakrawala dengan berkecimpung dalam organisasi, dan rajin mengikuti kursus-kursus untuk kemampuan softskill.
Singkat dan tidak muluk-muluk, batin saya yang terakhir.

Oleh : Cornelia Napitupulu
Jurusan Sastra Jepang 2010, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Bung Hatta Padang
19 Oktober 2012