Cerita - cerita sederhana si Gadis. Gadis yang mencintai dirinya sendiri, sampai tidak ingin menjadi orang lain. Gadis yang percaya pada cinta dan kemanusiaan ♥
Dalam masyarakat
manusia ada dua macam ikatan sosial yang pada dasarnya saling bertentangan.
Yang pertama adalah ikatan yang ada di hadapan individu sebagai sesuatu yang
sudah “jadi”. Yang kedua adalah ikatan yang dibentuk individu berdasarkan
kehendak bebasnya. Pada yang pertama, pola ikatan sosial mempunyai suatu bentuk
obyektif dan pasti, dan inividu menyesuaikan diri dengan pola ini seolah-olah
ia ditakdirkan untuk berbuat demikian. Pada yang kedua, individu mempunyai
suatu rencana, dan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuannya, ia
menjalin suatu hubungan-hubungan sosial yang baru. Dengan demikian tidak pola
obyektif dan pasti dalam cara ikatan sosial ini, ikatan tersebut berbeda-beda
menurut tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Tentu saja, hubungan sosial yang
banyak sekali itu yang ada dalam kehidupan nyata tidaklah terbatas pada kedua
tipe ini. Kedua tipe ini hanyalah tipe ideal yang merupakan dua bentuk kutub
ikatan dalam masyarakat manusia, dan hubungan sosial yang sesungguhnya berada
dalam jenjang nuansa yang tak terbatas antara kedua kutub tersebut.
Di Eropa para
cendekiawan yang mempelajari secara historis kebangkitan masyarakat modern,
baik dari segi hukum maupun dari segi sosiologi, telah menemukan bahwa dalam
perjalanan perubahan-perubahan historis yang merintis terbentuknya masyarakat
borjuis modern dalam sistem feodal abad pertengahan yang sudah mulai mundur,
ikatan-ikatan sosial tipe kedua mulai menggantikan ikatan-katan sosial yang
pertama, dan para cendekiawan tersebut mengajukan berbagai macam usulan untuk
menjelaskan perubahan ini. Gagasan seperti “dari status ke kontrak” dan dari
Gemeinscaft ke Gesselscaft merupakan usaha nyata dari kegiatan ini.
Generelasisasi ikatan
Gesselscaft dapat dengan jelas ditempatkan pada suatu tahapan historis, kurang
lebih tahapan historis masyarakat modern, tetapi cakupan historis pengaruh
Gemeinscaft sama sekali tidak jelas dan kabur sebelum terbentuknya masyarakat
borjuis. Akibatnya, Gemeinscaft mengabaikan perubahan historis yang terjadi ketika
sistem komunal primitif runtuh dan suatu pola kekuasaan terbentuk.
Freyer membagi
Gemeinscaft menjadi dua tahap untuk membentuk pembagian tiga tahap dari Gemeinscaft, Stand
gesellscaft, dan Klassengesellscaft. Masayarakat feodal ditempatkan dalam kategori Gesselscaft sebagai suatu
Standesgessellscaft, yaitu sebagai suatu masyarakat yang di dasarkan atas
status warisan (misbunsakai).
Pada akhir zaman
pertengahan dan pada permulaan jaman modern di Eropa, ikatan-ikatan sosial dari
tipe kedua dengan cepat mulai menggantikan ikatan-ikatan tipe pertama. Manusia
abad pertengahan memandang prototipe dari semua hubungan sosial itu adalah
lembaga-lembaga alamidan yang harus ada seperti keluarga (societates
necessariae). Manusia modern berpandagan bahwa di manapun dimungkinkan,
hubungan sosial haruslah didasarkan atas kehendak bebas individu (societates
vountariae)
Tonies menulis dalam
menjelaskan perlawanan antara Wesenwille (kehendak alami) dan Kuerwille
(kehendak rasiona), Tonies menunjuk pada kebalikan dari hubungan antara sistem
sosial dan manusia yang terjadi dalam peralihan dari masa abad pertengan ke
abad modern. Dengan demikian kita sepakat dengan Gierke, bahwa “alam pikiran
abad pertengahan berasal dari gagasan tentang suatu keutuhan tunggal”
Dapat disimpulkan bahwa
pergeseran dari alam berpikir Chu His, yang memandang sistem politik dan sosial
ada dengan sendirinya di langit dan di bumi, bagi logika aliran sorai, yang
berpandangan bahwa mereka itu ditemukan oleh manusia sebagai pelakunya, sesuai
kurang lebih dengan perubahan yang terjadi dalam kesadaran sosial “abad
pertengahan” yang diuraikan di atas. Di lain pihak, Sorai memahaminya sebagai
suatu sistem yang ditemukan oleh para raja awal yang dengan sepenuhnya
menggunakan akal sehat mereka dan menggunakan pengetahuan dan keterampilan
mereka sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan mendatangkan perdamaian kepada
manusia .
Tidak dapat disangkal
bahwa alam berpikir masa Tokugawa awal, didasarkan atas konsep tentang alam,
sesuaidalam maksud subyektifdan isi obyektifnya dengan Gemeinscaft. Sebaliknya,
walaupun tujuan yang sadar akan konsep sorai mengenai penemuan merupakan suatu
Gemeinscaft, konsep ini jelas diresap dengan logika suatu Gesellscaft.
Aliran Chu shi berhasil
menjadi suatu bentuk cara berpikir politik dan sosial yang berpengaruh dengan
dibentuknya masyarakat feodal Tokugawa tidak hanya konsep tatanan alam yang
dianutnya sesuai dengan kebangkitan masyarakat feodal tetapi juga secara khusus
alam pikiran. Chu shi cocok untuk masyarakat feodal. Sistem chu shi yang mengidentifikasi
norma-norma dasar masyarakat feodal, yaitu, kelima hubungan, dengan sifat
ontologis pada dua tingkat, secara paling efektif menyajikan dan memberikan
dasar teoritis bagi suatu pemahaman tentang tatanan sosial semacam itu. Dasar
metafisika terdalam filsafat Chu shi jelas terletak dalam penalaran organik,
yaitu, yang maha tinggi, azas dasar dari tatanan alam semesta, adalah akar
penyatu dunia, dan pada waktu yang sama merupakan suatu kekuatan khusus yang
ada dalam segala hal dan memberi nilai yang tertinggi. Seorang pemikir zaman
Tokugawa dengan cerdiknya membandingkan hubungan ini dengan “bulan yang dipantulkan ke sawah”.
Kegiatan-kegiatan yang ada menguasai segala sesuatu, langit dan bumi terulang
dalam miniatur dalam prilaku etis dari salah satu makhluk di langit dan di
bumi, manusia. Otto von Gierke menatakan tentang ide mengenai masyarakat Eropa
abad pertengahan.
Kepada
setiap makhuk diberukan tempat dalam keseluruhan, dan bagi setiap hubungan
antara sesuai dengan keputusan Ilahi. Tetapi karena dunia merupakan satu
organisme, yang digerakkan oleh satu roh, dibentuk oleh satu kekuasaan,
azas-azas yang sama yang muncul dalam struktur dunia akan muncul sekali lagi
dalam struktur setiap bagian. Karenanya setiap makhluk khusus, sejauh itu merupakan
keseluruhan, merupakan suatu miniatur dunia, suatu mikroorganisme atau dunia
kecil yang memantulkan mikroorganismeatau dunia dasar.
Rasa kesal pasti ada dalam diri tiap manusia terutama kesal terhadap perilaku
pasangan. Kali ini kita akan bahas perilaku pria apa saja yang bisa membuat
para wanitanya kesal. Berikut adalah beberapa prilaku tersebut.
1. Obral
janji
Sebaiknya
para pria tidak terlalu mudah untuk mengobral janji. Ketika mereka melakukan
hal ini, maka banyak wanita yang akan kesal dibuatnya. Sebagian besar para pria
akan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama tapi nyatanya dia
selalu mengulangnya. Karena itu pula, maka kaum wanita akan berpikir kalau
pacar mereka hanya bermain-main saja dengan janji yang mereka buat sendiri.
2. Berlagak
paling hebat
Memang
benar kalau pria jauh lebih kuat daripada wanita. Karena itu pula kaum pria
memiliki ego tersendiri untuk terlihat hebat atau berlagak paling hebat di
depan wanita. Para pria mungkin berpikiran kalau mereka tidak memperlihatkan
sisi lemahnya maka para wanita tidak akan memandang mereka lemah. Justru dengan
mereka selalu berlagak hebat membuat wanita jengah melihatnya.
3. Sering
lupa
Pria
memang cenderung tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang bersifat detail
seperti wanita. Bagi mereka hal-hal kecil seperti itu bukanlah masalah yang
harus terlalu diperhatikan. Jadi tidak heran jika para pria akan sering lupa
dengan hal-hal yang mereka anggap tidak terlalu signifikan. Tapi justru hal
tersebut bertentangan dengan wanita dan sebagai dampaknya wanita akan dibuat
kesal karenanya.
4. Egois
dengan dunianya
Ada
yang bilang di dalam diri seorang pria ada sisi anak-anak yang tidak akan lepas
dari dirinya. Hal inilah yang bisa membuat kesal wanita kalau meilhat pria
terbenam dengan dunianya. Mereka pasti akan jadi egois. Mereka akan lebih
mementingkan games-nya dibanding harus menjemput pacarnya atau menonton
pertandingan tim favoritnya dibanding harus berlama-lama menemani pacarnya
berbelanja.
5. Berkomentar
soal fisik wanita
Ketika
pria sedang berkumpul dengan teman-teman prianya, mereka pasti akan
mengomentari tiap fisik wanita yang lewat di depan mereka. Kita, para wanita,
juga sering melakukan hal yang sama. Tapi ketika statusnya kita sudah memiliki
pacar, alangkah lebih baik jangan terlalu mengomentari fisik wanita lain. Akan
lebih baik kalau ingin melakukannya bersama teman-teman prianya ketimbang di
depan kita. Bisa-bisa kita dibuat makin kesal karenanya.
6. Pura-pura
bodoh
Pria
memang tidak mau dibuat ribet dengan mood wanita yang turun naik
terutama ketika sedang berselisih dengan wanita. Bagi mereka, lebih baik
menghindar untuk beragumen dan langsung pada inti permasalahan. Justru dengan
mereka seperti itu, wanita akan jadi lebih kesal. Kita akan berpikir kalau
mereka tidak peduli dengan kita.
Sekarang, mampu berbicara tentang
hal-hal yang bersifat nasional, sudah menjadi tren tersendiri untuk beberapa
anak muda. Berbicara menggunakan istilah khusus pun menjadi kebanggaan
tersendiri. Semua seakan berlomba-lomba untuk mencari kesempatan berbicara
tentang hal-hal yang sebenarnya tidak mereka mengerti seutuhnya. Sok mencaruti korupsi
pada dunia politik, tapi ujian masih menyontek. Bukankah korupsi dan menyontek
memiliki dasar kesalahan yang sama yaitu berbohong? Lantang mengomentari
perekonomian yang cacat dan sebagainya, tapi belum mampu berpikir kritis untuk
membangun industri kreatif. Berani memperdebatkan masalah pendidikan, tapi
tidak pernah menghadirkan model pembelajaran inovatif. Dan sebagainya. Ikut
berbicara pada sebuah masalah tanpa bijak mengadvokasi.
Sebenarnya tidak masalah jika
memang berbicara atas dasar data, pengertian, fakta, atau sejarah yang benar
dan menghasilkan solusi yang nyata. Nah, masalahnya sekarang, tren aneh tersebut
malah dijadikan ajang keren-kerenan. Coba analisis secara sederhana saja,
generasi macam apa yang akan tercipta?
Mayoritas media pun begitu, semua
seakan saling membius dan dibius oleh segala macam pemberitaan pusat, sehingga
melupakan banyak hal kecil yang perlu dibenahi dari lingkungan kita sendiri.
Terhipnotis pada hal-hal besar, meremehkan hal-hal kecil, akhirnya semua usaha
dan pekerjaan menjadi tidak semaksimal yang semestinya. Kita lihat saja tema
diskusi-diskusi yang ada di sekeliling kita. Ada diskusi bela negara, diskusi
UU Perguruan Tinggi, diskusi pemberantasan korupsi, dan sebagainya. Semua
diskusi kebanyakan hanya berupa pemberian materi secara kaku, akhirnya diskusi
akan berakhir mengambang, tanpa ada aksi tindak lanjut yang bermanfaat. Pernah
tidak terbersit untuk mendiskusikan kebersihan toilet umum di Padang atau kebiasaan
cimeeh orang Padang? Silakan
menertawakan diri sendiri.
Tulisan ini sekedar ingin
mengajak teman-teman untuk tidak melihat terlalu jauh dan mengambang. Coba
kritis pada hal dasar yang akan memperkaya budaya dan mempengaruhi peradaban
kita. Mulailah segala sesuatu dari diri sendiri dengan menjernihkan hati.
Saya sedang bermimpi mengupas
kearifan lokal bersama teman-teman muda.
Kita mengenang aset genetik
Padang, seperti siamang dan beruk. Menciptakan merchandise unik dengan mencoba mengabadikannya dalam produk
kreatif, seperti kaos, gantungan kunci, bahkan boneka. Menjualnya secara merata
pada setiap toko terutama di lokasi wisata dan turisme.
Setelah itu saya mencicipi kekhasan
cita rasa makanan atau kuliner tradisional pada kunjungan ke Festival Kuliner Ketan.
Ada lamang tapai, beragam lapek, galamai, beragam bubur, dan kue-kue an. Sayapun
menikmati bubur ketan hitam kesukaan saya. Wah, ramai sekali pedagang yang
menebar senyum di sini.
Kemudian saya berterimakasih pada
tim yang bekerja fokus dan memaksimalkan pelayanan pada daerah pariwisata
Padang. Tiba-tiba saja saya berada di Bukittinggi dalam kereta api yang bergerak
menuju Pantai Padang. Perjalanan yang luar biasa, bibir pantai begitu bersih
dan pergerakan wisatawan terkontrol dengan tertib.
Seakan dipermainkan mesin waktu,
saya baru saja mendarat dan sedang berjalan pada koridor bandara menuju hotel. Mereka
memberikan atmosfir tradisional yang kental pada tempat-tempat yang terkait wisata
dan turisme. Mulai dari kuliner lokal pada kafe-kafenya. Lagu dan instrumen
musik lokal diputar mendengungkan telinga, Bahkan tarian beserta pakaian lokalnya
ditampilkan pada lobi. Bukan hanya orang asing berambut pirang saja yang ikut
meramaikan. Teman-teman muda pun banyak yang berusaha mengabadikan momen
tersebut dalam kamera jinjingnya.
Kemudian, adik-adik saya mulai
terangsang ikut melahirkan dan melestarikan produk lokal Padang yang unik, di
mana saja.
Ahh, mimpi indah.
Mengusap keringat pada dahi, lalu
membatin, saya mencintai kampung saya.
Berbekal
pengetahuan yang tidak seberapa, saya pun melangkahkan kaki keluar dari Gedung
Auditorium Gubernur dengan bingung. Sosok seperti apa yang akan saya jadikan
objek reportase saya? Sayapun melirik arloji hadiah dari mama tahun ini. Sudah
pukul 15.45. Saya harus kembali lagi ke sini, pukul 17.30. Tiba-tiba saya
teringat pukul 16.00 saya ada jadwal Sekolah Public Speaking dan Retorika
Indonesia di Gedung RRI, tanpa ragu saya segera menuju TKP.
Sesampainya
di lokal belajar pada salah satu ruangan di Gedung RRI, saya kembali melirik
arloji. Masih pukul 15.50, sementara belum banyak peserta yang hadir. Saya
terdiam sebentar dan kembali mengingat tugas reportase dari Bang Iwan. Saya
langsung membatin, bagaimana kalau sang instruktur yang saya jadikan objek?
Segera saya menorehkan pertanyaan-pertanyaan mendasar pada secarik kertas. Lalu
menemui beliau di kursi belakang ruangan.
“Tidak,
saya tidak sibuk. Ada apa?”
Jawaban
yang saya harapkan, membatin sendiri.
“Oh, tugas reportase? Boleh.. Boleh..”
Seketika
itu juga saya lega. Satu persatu jawaban mengalun indah menemani setiap
pertanyaan yang terlontar dari bibir saya. Perkenalkan, Nofrion Sikumbang,
lebih sering dipanggil Pak Dion. Ia merupakan kepala Sekolah Public Speaking
dan Retorika Indonesia (SPSRI) di RRI untuk dua tahun belakangan ini. Prestasi
yang didapatkan dalam perjalanan, membuat ia diberi kepercayaan untuk amanat
tersebut.
Dalam
perjalananannya, melalui SPSRI, Dion berharap peserta didik bukan hanya sekedar
bisa, tapi mampu berkomunikasi dengan etika yang benar. Walau SPSRI bersifat
pendidikan non formal, banyak sekali tamatan peserta didik yang sangat
terbantu, terutama ketika dalam dan mencari pekerjaan. Tamatan peserta didik
juga ada yang sudah menjadi penyiar dan reporter. Menurutnya, kemampuan
komunikasi merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam kehidupan
bermasyarakat, di mana pun juga.
Pertemuan
kali ini adalah pertemuan ketiga SPSRI dalam periode ini. Dion sosok komunikan
ramah dan murah senyum. Pembawaan yang menarik, membuat suasana belajar menjadi
tidak kaku dan menyenangkan. Setiap sepuluh menit ada saja gelak tawa dari
peserta didik, hasil dari lelucon yang dilontarkannya. Benar-benar komunikan
yang pantas sebagai instruktur SPSRI, batin saya. Ada rasa kebangaan tersendiri
memiliki kesempatan mengenalnya.
Di
balik kemampuan komunikasinya, sosok yang tetap bangga menempelkan suku
Sikumbang pada namanya ini, ternyata memiliki cita-cita sederhana. Menjadi guru.
Dion ingin menjadi orang yang bermanfaat dan merasa tertantang dalam hal
berbagi ilmu dengan sesama. Konon ceritanya, dulu saat bersekolah di kota
kelahiran, Solok, banyak guru yang sering bolos mengajar karena sakit. Dan hal
itu yang mendorong mengapa ia ingin menjadi guru. Seakan-akan matanya ingin
menyampaikan, berbagi ilmu adalah perbuatan mulia dan harus dilestarikan. Tekad
dan kerja keras benar-benar membuat ia meraih cita-citanya dan sekarang bekerja
sebagai Dosen Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) di Universitas Negeri
Padang (UNP). Bukan itu saja, ketulusan niat menjadi tenaga pendidik membuat ia
menyandang Dosen Luar Biasa Poli-Unand Jurusan Bahasa Inggris, Konsentrasi
Public Speaking dan TV/Radio Broadcasting. Selain menjadi kepala SPSRI, saat
ini ia juga aktif menjadi Penyiar Pro1 dengan program unggulan “Pelangi
Edukasi”. Benar-benar pendidik, batin saya lagi.
Bapak
kelahiran 11 November 1978 ini merupakan putera kedua Bapak Asmar dan Ibu
Nurjida. Maret 2003 lalu, ia lulus S-1 Pendidikan Geografi, Yudisium Dengan
Pujian. Pada masa kuliah, gelar Mahasiswa Teladan dan Juara LKTI Kelompok IPS
juga berhasil ia raih. Tidak sedikit prestasi yang tercatat. Beberapa
diantaranya, juara 1 Pria Lomba LP2P4 Tingkat Nasional tahun 1997, juara 1 MSQ
Tingkat Sumatera Barat tahun 1999, juara 1 Pidato HIPORI Nasional tahun 2000, Pembawa
Acara dan MC Terbaik Sumatera Barat tahun 2000, Pembaca Berita, Radio/TV
Terbaik Sumatera Barat tahun 2000, Penyaji Terbaik Tingkat Nasional dalam
PIMNAS tahun 2003, dan juara 1 Pemilihan Penyiar RRI yang membuat ia dikontrak
sebagai Penyiar Pro2. Prestasi yang cukup berkesan baginya adalah Peserta Terbaik
LPJ CPNS Golongan III tahun 2010 dan Juara 2 Kompetisi Suara Kencana Nasional
tahun 2010.
Niat
berbagi ilmu dan keterampilan telah Dion wujudkan dengan mendirikan Pusat
Pengembangan Potensi Anak (P3A) Sakinah, khusus bagi Anak Jalanan di Kota
Padang (2003-2004), Announcer And MC Course (2007), dan Sekolah Public Speaking
dan Retorika Indonesia (2011). Kemampuan komunikasi yang patut diacungi jempol,
membuat ia memperluas ranah permainannya. Sehingga pernah diundang menjadi
pembicara dan instruktur sebuah acara hingga ke Pulau Jawa
Banyaknya
prestasi dan kepercayaan-kepercayaan berkelas yang telah diraih, tidak membuat ia
berhenti bercita-cita. Tidak banyak Putra Minangkabau yang peduli dengan
generasinya, seperti Dion. Sekarang, ia berharap sekali dapat mendirikan
lembaga pembelajaran atau kursus terkait kemampuan komunikasi dengan
konsentrasi sosial dan media, namun bersifat tidak komersil di Sumatera Barat,
khususnya Padang. Hal ini mengingat mahalnya biaya untuk pelatihan komunikasi
di Indonesia. Sementara dalam hasil survei National Association of Colleges and
Employers, USA, 2002 (disurvei pada 457 pimpinan), kemampuan komunikasi adalah
softskill nomor satu yang dianggap penting. Dion pun sudah mulai
mengupayakannya, mendiskusikannya, juga melakukan seminar-seminar pendukung, tetapi
masih menunggu investor-investor yang mau membantu dan lebih peduli pada
peningkatan softskill generasi muda bangsa di Sumatera Barat.
“Sebelumnya,
mendirikan SPSRI juga memiliki kendala-kendala tersendiri, terutama dalam hal
birokrasi.” ungkap Dion.
Seharusnya
pihak terkait bisa menilik hal ini dengan lebih cerdas, mengingat tingkat urgensi
softskill yang satu ini, lagi-lagi saya membatin.
Awalnya,
minat Dion akan dunia komunikasi bukannya tidak memiliki hambatan. Minimnya ketersediaan
tempat kursus terkait di Padang, merupakan salah satunya. Beruntung sekali,
pria dengan dua orang anak ini, lahir dan dibesarkan oleh orangtua yang juga
sebagai tenaga pendidik. Sehingga dalam aktivitasnya, ia mendapat didikan,
latihan, dan dukungan yang sehat dari kedua orangtua. Ia pun tetap semangat belajar
otodidak (melalui buku dan menghadiri pelatihan-pelatihan terkait). Kini, Dion
pun lebih nyaman dikategorikan sebagai tenaga pendidik, daripada sebagai public
speaker.
Beberapa
catatan pelatihan yang pernah beliau ikuti :
1.Pelatihan
MC dan Announcer Telkom persiapan MTQ Telkom Tingkat Nasional tahun 2000.
2.Pembekalan
Pewara dan MC MTQ PTP Nusantara tahun 2000.
3.Pelatihan
Pekerja Sosial dan Pendamping Orang Tua Anak Jalanan Program ADB dan APBN tahun
2000.
4.Workshop
Internet Bersama Roy Suryo tahun 2000.
5.Workshop
Pewara, MC, Moderator, dan Presenter LPP RRO tahun 2002, 2004, dan 2008.
6.Pelatihan
Pewara/MC Departemen Agama Sumbar tahun 2004.
7.In
House Training Dunia Siaran Radio, Pelatihan Program Radio Berbasis Multimedia
tahun 2008.
8.Pelatihan
Dosen Muda Berkepribadian Unggul Dan Dosen Penasehat Akademik tahun 2010.
“Cerdas
dalam intelegensi dan cerdas kemampuan berkomunikasi.” harapan Dion di penutup
pembicaraan kami sore ini, sambungnya, “Kemampuan berkomunikasi merupakan
pencitraan tersendiri sebagai seorang pribadi.”
Ia
pun menyarankan, generasi muda, mahasiswa khususnya, agar aktif belajar tentang
apapun di lingkungannya, membuka cakrawala dengan berkecimpung dalam
organisasi, dan rajin mengikuti kursus-kursus untuk kemampuan softskill.
Singkat
dan tidak muluk-muluk, batin saya yang terakhir.
Oleh : Cornelia
Napitupulu
Jurusan Sastra Jepang
2010, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Bung Hatta Padang