Sabtu, 03 Maret 2012

Aku Benci Hatiku


Memilihmu adalah kebodohan terbesar hatiku.
Hei, Hati ! Tidak lelahkah kau merasa sakit?
Hei, Hati ! Tidak jenuhkah kau selalu ditinggalkan?
Hei, Hati ! Tidak sedihkah kau merasa sepi?
Sudahlah! Aku saja sudah bosan dengan semua ini!
Maaf,aku bukan bosan, aku muak!
Mengapa kau selalu salah memilih?
Mengapa kau selalu melakukan pekerjaan bodoh?
Kau menyiksaku!
Aku benci padamu!
Ingin sekali kubuang kau!
Biar aku hidup dan mati tanpa hati!
Lihat apa yang sudah kau lakukan?
Ini sudah kali keberapa kau membuat raga ini remuk!
Ini sudah kali keberapa kau buat ku hidup bagai mayat!
SUDAH KALI KETUJUH !
Hei, Hati ! Tidak pernahkah kau pikirkan ragaku?
Kau menguras semua tenagaku.
Perlahan-lahan kau hancurkan sisa hidupku.
Aku benci kau hatiku.
Sudahlah, aku mohon padamu, janganlah kau memilih lagi.
Sudahlah, aku lelah bercinta.
Kau pikir tidak jenuh kah aku menyelami jiwa-jiwa mereka?
Berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, namun akhirnya aku sadar aku tidak pernah berarti untuk mereka?
Kau pikir itu tidak sakit, ha?!
Sudahlah, aku mohon padamu, berhentilah kau bicara.
Aku bosan mendengarkan suaramu.
Aku bosan mematuhi setiap pilihanmu.
Aku bagai budakmu.
Kau tak pernah tahu rasanya sakit.
Kau tak pernah tahu rasanya lemas.
Sudahlah, kumohon.
Aku ingin jadi manusia tanpa hati.


Kamis, 01 Maret 2012

Seminggu Sudah

Hari-hari sedih kulalui sendiri. Semua kembali lagi seperti dulu. Tidak seperti biasa, aku akan mengadukan setiap hal kecil kepadanya, sekedar untuk berbagi cerita. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi cerita. Dia sepertinya begitu mengikhlaskan kepergianku dan itu semakin menyiksaku. Mau bagaimana lagi, ini semua pilihanku. Aku telah memilih untuk meninggalkannya. Aku harus menanggung semua resikonya, bagaimana pun akhirnya perasaan ku terlunta-lunta terbakar matahari, menguap, dan ikut luluh bersama hujan saat awan sudah begitu berat.

Aku belum bisa melupakannya, mungkin sebuah kewajaran. Aku masih menyayanginya, mungkin sebuah kebetulan. Aku ingin kembali padanya, mungkin hanya sebatas impian. Aku tidak melihat tanda-tanda itu sejak seminggu yang lalu, sejak aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.

Semua ini demi kebaikan aku. Aku harus percaya itu. Ini lah satu-satunya jalan, agar aku bisa menjadi lebih baik dan tidak sekedar menjadi bebannya lagi. Sudah cukup rasanya 3 bulan lebih aku selalu menjadi anak-anak baginya, yang selalu meminta terus dan terus perhatiannya. Akupun sadar buah aku sudah terlalu sering membuatnya lelah dengan segala kritikan ku. Padahal intinya hanya satu, aku tak pernah bisa menerima kekurangannya. Tapi dia tak pernah berkomentar banyak, dia hanya diam, dan mendengarkan setiap keluhanku. Lalu dengan sabar mengucapkan kata maaf untuk mengalah. Bukankah Pahala sungguh luar biasa? Ya, dia memang hebat.

Tepat seminggu yang lalu aku akhirnya mengambil keputusan. Hubungan ini tidak bisa diperlama lagi, Pahala selalu memberikan yang terbaik, tapi sampai kemarinpun aku belum bisa menerima dia apadanya. Aku merasa tidak pantas seketika. Aku terlalu kanak-kanak. Ya, sampai saat ini aku belum dewasa. Ini memang selalu menjadi kelemahanku setiap menjalin hubungan dengan laki-laki.

Tuhan, maafkanlah aku yang selalu hanya bisa menangisi semuanya. Aku tak pernah benar-benar bisa kuat untuk meninggalkannya, tapi aku pun tak ingin membebaninya. Aku harap Engkau mau mendampingiku dalam masa ini, masa dimana aku berusaha keras untuk menjadi dewasa, untuk dirinya, agar aku pun bisa membuatnya bangga memilikiku.

Sudah seminggu ini kami sangat minim komunikasi, semua ini yang terjadi mendadak, sangat menyiksaku. Sehingga kadang aku mengingkari janjiku dan mengiriminya pesan singkat sehari setiap kali, dengan seribu alasan dan gayaku, agar dia mau berbicara dengan ku. Ya aku sudah membuang gengsi jauh-jauh, perasaan sakit ini belum bisa kutanggung sendiri hanya demi menahan gengsi. Walaupun aku tak kunjung mendapat balasan yang hangat seperti yang kuinginkan, tapi biarlah ini termasuk cobaan.

Semua ini aku lakukan supaya aku bisa menjadi lebih dewasa. Supaya aku tidak terus-terusan memaksa memberikan semua perhatiannya kepadaku. Supaya aku tidak terus saja mengeluh akan kekurangannya. Semua ini akan aku coba jalani dengan ikhlas, bagaimanapun nanti akhirnya, mau atau tidak kah dia kembali padaku, aku tidak peduli. Setidaknya sekarang yang aku tahu, aku ingin dewasa, untuk dia, untuk Pahala.

Sejak aku kenal dia (SMA) hingga sekarang aku telah memutuskan berpisah dengannya, aku tidak pernah benar-benar mengetahui apa perasaannya. Pahala tipe pria yang tertutup dan sulit berkomunikasi untuk masalah pribadi. Aku harap dengan usaha ku untuk menjadi dewasa demi dia ini, akhirnya akan membuat dia merasa nyaman berbagi dengan ku. Hehehe, aku yakin kalau aku sudah dewasa, Pahala pasti senang dan dia pasti mau terbuka denganku perlahan-lahan. Dia tertutup pasti karna aku terlalu kanak-kanak untuk cerita hidupnya. Sabar ya Pahala, jika sekarang kamu masih sayang aku, jangan tinggalin aku dulu yaa, tunggu aku bekerja keras agar bisa jadi dewasa, biar kita bisa berbagi cerita bersama, layaknya seorang abang dan adek.

Huaaaa aku berharap nama mu lah yang akan bersanding dengan namaku nanti di kartu undangan berpita kuning itu, tanda papa dan mama telah mempercayakan nya untuk menjadi pelindung dan orangtua kedua bagiku. Waah, aku ingin sekali semua ini cepat berlalu. Aku ingin sekali segera menjadi puteri yang menikahi pangerannya dan hidup bahagia bersama selamanya. Aku ingin sekali berada di peluknya setiap malam. Aku ingin sekali menatap wajahnya sebelum tidur. Aku ingin sekali bersamanya. Pahala, apakah dia memikirkan hal yang sama? Hahaha aku tahu dia tak kan pernah menjawab, toh aku tidak akan pernah berani menanyakannya, kecuali aku memberi tahunya tentang keberadaan blog ini. Hahaha. GILA!

Mulai dari sekarang :
1.       Aku harus semangat kuliah dan rajin belajar.
2.      Aku harus bisa menahan semua ego ku untuk mencari perhatian dan lebih berpusat untuk memberi perhatian.
3.       Aku harus belajar ikhlas
4.       Aku harus percaya bahwa Tuhan telah menakdirkannya untukku
5.       Aku harus mau menerima dia apa adanya.
6.       Aku harus bisa membuat banyak orang-orang bangga
7.       Aku harus bisa menjadi yang terbaik untuk keluargaku.
8.       Aku harus menjadi dewasa, dan tidak merepotkan siapa-siapa lagi.
9.       Aku harus bisa berdiri di kaki ku sendiri dan mandiri dan tidak manja untuk segala keperluanku.
1.   Aku harus BISAAA, karna Tuhan bersamaku.

Aku bisa.

Minggu, 26 Februari 2012

Abang Hebat, begitulah puja terakhirku


Judul yang aneh ya? Hwuaaa!
Kami udah putus, hmm, ini hari ke 4 aku udah gak jadian lagi sama dia. Aku juga bingung mau cerita darimana. Tapi yang pasti sekarang aku sedih banget.
Tahu gak, dulu aku pernah bilang gini “don’t ever let me go yaa.” Dan dia jawab “ok2”
Dulu tiap ada masalah, dia sering ngomong “yaudah.apapun keputusan dek sekarang abang terima.”
Dan aku udah pernah bilang kalau aku gak suka dia ngomong gitu, dan dia minta maaf tanda janji gak bakal ngomong gitu. Aku juga udah bilang, aku ngerasa gak dipertahanin, aku ngerasa gak berarti buat dia. Dan dia minta maaf.
Dulu aku pernah bilang “apapun sakitnya, aku masih kuat asal sama abang.” Dan dia bilang, “iya abang juga masih sayang dek, dan masih belum bisa tanpa dek.”
TAPI APA SEKARANG? Belum sampe juga sebulan sejak dia ngomong gitu. Pas aku ngajak putus, dia dengan santainya cuma jawab “iyalah dek kalau itu keputusan dek.” Rasanya aku pengen mati detik itu juga. Rasanya aku benar-benar kesal pengen nonjok apapun, pengen ngelempar apa yang aku lihat!

Sehingga akhirnya sekarang kami putus begitu saja. Aku bilang ke dia kalau aku bosan dan nyerah dengan sifat cuek dia. Tapi dia gak ada ngajak aku buat bertahan, dia biarin aku pergi. Dan begitu saja, aku kehilangan sosok yang sudah kutunggu begitu lama. Dan aku hanya bisa menangis tertahan menyadari dia sanggup kehilangan aku. Tuhaaaan T.T ya sekarang aku hanya bisa menyebut namanya dalam doa.
Pertanyaan aku cuma satu, sebenarnya gimana sih perasaan pahala ke aku? Di setiap sms pagi dan malamnya selalu bicara bahwa dia menyayangiku selalu. Tapi mana buktinya? Kok begini lakunya? Aku kecewa sama pahala.
Inilah alasannya mengapa dulu aku membatasi perasaanku padamu. Inilah alasanku mengapa dulu aku memilih untuk tidak menyayangimu lebih dari teman. Inilah alasanku mengapa dulu aku tidak berniat menjalin hubungan serius denganmu. Ya karna aku takut, aku takut kehilanganmu. T.T
Sekarang apa? Hal yang aku takutkan sudah terjadi. Kini ya aku cuma bisa menulisnya saja. Akupun tidak bisa banyak berkata-kata lagi. Ntah bagaimana caranya agar pahala tahu perasaan aku. Berharap saja sebelum akhirnya aku harus mati, aku sempat memberi tahunya tentang keberadaan blog ini. Ya walaupun jelas sudah terlambat. Setidaknya dia tahu. :(
Pahala..
Aku mungkin memang bukan perempuan rupawan yang bisa buat kamu bangga saat menggenggam tanganku..
Aku mungkin memang bukan perempuan pintar yang bisa buat kamu bangga saat berbicara tentangku..
Aku mungkin memang bukan perempuan baik hati yang bisa buat kamu bangga saat di depan teman-temanmu..
Tapi aku bangga dengan rasa ini, yang bisa melihatmu tersenyum walau bukan karnaku..

Waktu masih panjang, dan aku belum bisa ketahui apapun yang akan terjadi esok, tapi aku tidak bisa munafik, sekarang aku sangat berharap dia kembali, rangkul aku lagi, buktikan bahwa memang kamu membutuhkanku, tak peduli berapapun jarak antara kita sekarang..
Tapi mungkin juga di luar sana dia sudah menunggumu, bidadari cantik yang baik hati serta pintar, yang akan menemanimu hingga akhir hayatmu, membahagiakanmu, dan selalu hadirkan senyum di wajahmu..
Walaupun aku tidak bisa melakukan itu, tapi aku bangga jika bisa melihatnya dengan mataku sendiri..
Aku bangga sanggup melihat mu bahagia, sekalipun bukan dengan aku..

Pahala, aku sayang kamu.. Maaf kalau aku bukan perempuan yang kamu inginkan..
Doakan aku ya, agar akupun segera mendapat pangeranku yang memang pantas untukku..
Maaf Pahala, kalau sampai detik inipun, aku masih mengecewakanmu, aku yang tak pernah pantas bersanding dengan hatimu..

Terimakasih untuk waktu yang masih sempat kau beri kemarin, tak kan kulupakan, sayang abang selalu J

Rabu, 18 Januari 2012

Pahala Cuek Aku !

Judul yang bagus, karna isi cerita aku akan langsung tersampaikan intinya saat kita membaca judulnya.
Aku mau share tentang bagaimana sih Pahala itu? Pasti pada penasaran kan? Secaraa.. Hmm.. Dalam 2 post sebelumnya (kalau nggak salah), aku pernah cerita gimana foto aku dan Pahala di kantin kampusnya buat aku dan mantan aku sebelumnya putus. Dan bagaimana dulu aku cerita bahwa aku gak ada perasaan apa-apa sama Pahala. Ya, mungkin ini lah namanya takdir. Aku sendiri kadang masih bingung kenapa kok sekarang, aku bisa sesayang ini sama dia. Hmm. Sehingga kadang aku menjadi takut sendiri. Aku benar-benar takut kecewa. Hubunganku sudah berapa kali kandas, saat aku mulai benar2 menyayangi orang lain. Ntah dimana salahku, akupun tak pernah mengerti.

Pahala Junedi Pandapotan Hutauruk. Satu hal yang membuat aku nyaman bersamanya, bahwa dia adalah PRIA. Iya, dia punya komitmen, dia jujur, dan sampai saat ini dia setia. Itu nilai plus buat dia karna dua hal itu tidak pernah aku dapatkan dari semua mantan2 aku sebelumnya. Dan semoga semua kepercayaan aku sama dia adalah hal utama yang dia pertahankan.

Pahala memang kebetulan berpenampilan menarik. Mungkin karna dia tinggi dan putih. Seandainya dia pendek dan berkulit gelap mungkin biasa saja. Kalau aku bisa punya pacar berpenampilan menarik cuma aku anggap bonus, karna jelas, tampang bukan hal utama dalam penilaian aku. Terserahlah fisik nya kaya gimana yang penting dia tetap jaga kebersihan dan kesehatan itu udah cukup buat aku.

Dari segi sifat, hmm. Pahala itu bukan tipe cowo perhatian. Dia bukan tipe cowo yang bisa manjain aku. Itu makanya sekalipun dia nyebut diri dia "abang" dan dia nyebut aku "adek". Tapi aku jarang menyebut diri aku sendiri "adek" buat dia. Karna aku gak ngerasa dimanjain layaknya aku emank adek dia. Hufth. Kadang kalau dia udah cuek bebek kayak gini aku ngerasa kangen masa-masa pacaran sama mantan2 aku sebelumnya. Dimana aku diperlakukan layaknya sang putri yang tak akan pernah rela mereka lepaskan. Iya dia jarang buat aku ngerasa spesial. Kadang2 sih ada aku ngerasa spesial, tapi kadang2 nya tu kayak sekali setahun gitu. Hmm. :(

Coba ya perhatikan :
1. Sampai sekarang Pahala gak pernah manggil aku pakai panggilan spesial kayak orang pacaran biasanya. Jangankan panggilan spesial. Manggil aku "sayang" aja dia gak pernah. Aku tahu dia baru pertama kali pacaran, tapi ntah berapa kali aku sering mancing dia, tapi emang dasar dia cuek, ya udah gini deh jadinya. :(

2. Dari jadian sampai sekarang Pahala gak pernah buat status di FB nya kalau dia sayang aku. Bayangkan lah, padahal kan kalau orang baru2 jadian tu pasti lagi hot-hotnya. Masa gak ada sih, satu status dia buat aku? Apa emank dasar aku gak pernah ada di pikiran dia ya? Okelah di sms dia emank tiap hari bilang kalau dia sayang sama aku. Tapi kalau buat di dunia maya kan, aku ngerasa lebih spesial karna semua orang tahu kalau Pahala sayang aku. Apa jangan2 Pahala selingkuh ya, dan dia gak mau selingkuhannya tahu? hiks :(

3. Dari jadian sampai sekarang, aku gak pernah dengar Pahala bilang sayang ke aku. Dia nembak aku cuma lewat FB. Telinga aku gak pernah dengar kata2 apapun tentang perasaan dia ke aku. Kadang hal ini yang buat aku paling kesal sedunia sama dia. Karna buat aku jadi minder sama teman2 aku. Hiks :(

4. Pahala gak mau nyentuh aku terlalu banyak. Okelah bukan berarti aku murahan pengen disentuh-sentuh banyak2. Oke dia emang pernah megang tangan aku. Tapi kadang2 kan aku pengen juga bahu aku dirangkul, tangan aku dipegang sepanjang jalan, atau kening aku dicium. Bukan buat nandain dia sayang sama aku sih. Tapi kan pengen donk di romantisin gitu sekali-sekali sama pacar kita sendiri :(

5. Pahala gak mau nelpon aku. Iya kami pernah telponan. Itupun sekali karna waktu itu aku ngetes kartu m3 aku. Udah niat beli kartu m3 ternyata dia gak ada nelpon nelpon aku doh. Hiks. Udahlah sms jarang, nelpon pun gak mau. Sedih kali aku lah. Seandainya aja kartu dia itu Tri sama kayak kartu aku, pasti tiap bentar aku telpon mah. :(

6. Pahala gak pernah mau bilang rasa sayang nya selain "sayang kamu selalu", "bg sayang dek" . Dia gak pernah sebut kata "cinta", "rindu" atau apa kek. Isssh,,,, nge BT in gak sih??!

7. Pahala jarang banget ngajak aku ketemuan. Tapi sih yang satu ini masih aku terima aja kadang2. Soalnya emank ini kena ke biaya dan aku juga gak tega ngerepotin dia. Sekalipun sebenarnya aku punya motor dan aku sangat mau direpotin asal ketemu dia. Tapi sayangnya dia gak pernah minta. Dan akupun segan menawarkan, ntar kalau aku terlalu agresif dia malah gak suka. Hiks :(

Iya untuk sekarang, 7 hal di atas lah yang paling aku keselin dari dia. Hal-hal yang buat aku ngerasa gak spesial, gak berarti, dan gak ada pengaruhnya buat dia. Hal yang buat aku ngerasa gak pernah diperhatiin dan buat aku ngerasa punya pacar cuek. :(

Okelah aku gak minta dia buat jadi cowo yang pandai ngegombal, aku gak minta dia jadi cowo yang sangat puitis, aku juga gak minta dia jadi cowo yang alay atau berlebihan. Tapi PLEASE deh, apa susah nya sih ngomong??? Ngajak ketemuan jarang, ngomong langsung gak pernah, nelpon gak pernah, sms apalagi. Isssh!!!!!!

Sering banget pengen mutusin dia. Tapi apa daya aku sayang sama dia. Dan aku gak mau kehilangan dia. Titik. Tapi sampai kapan coba?? Apakah aku kuat bertahan kayak gini terus? Aku kangen cara pacaran aku duluu.. Aku sedih banget lah.. Apa ini karma buat aku?? Tapi aku mesti buat apa? Tuhaaaan T.T

Selasa, 03 Januari 2012

Apa Fungsi Pacar?


Oke. Maaf udah lama gak cerita dan share lagi di sini. Terutama tentang gimana perasaan hati aku sekarang. Yah, kalo mau dilihat dari sudut pandang dewasa, aku paham kok. Kalo masalah pacaran bukanlah hal yang penting sekarang. Toh sekarang aku masih mahasiswi tingkat dua yang seharusnya lebih banyak belajar daripada memikirkan cinta-cintaan yang sebenarnya masih semu akan arti dan belum paham makna sesungguhnya. Tapi jujur deh, aku sendiri masih terlalu ego untuk gak mikirin hal itu. Mungkin karna sekarang aku masih mikir dari sudut pandang remaja dan kebutuhannya. Saat-saat dimana keluarga udah gak bisa lagi jadi tempat sandaran. Saat teman-teman mulai gak bisa dipercayai seutuhnya tentang masalah pribadi. Kamu butuh siapa? Ya saat itu kita butuh pacar, toh dia kan bakal jadi calon suami kita, dia harus mulai tahu dong tentang aku kita dan masalah kita? Iya itu alasan aku kenapa sampai saat ini, lebih pilih curhat ke pacar dulu daripada ke teman. Kecuali untuk masalah pacar, tentu saja aku gak mungkin curhat ke pacar, tapi curhat ke teman. Mungkin kita bisa aja bilang. Siapa bilang pacar itu segalanya? Emang kamu umat yang nggak punya Tuhan? Emang kamu ateis ya, sampai segitunya ngarep ke pacar? Iya emank benar, kok kesannya gak beragama gitu. Tapi coba deh jawab pake hati paling kecil kamu sendiri. Kamu yakin kamu gak butuh pacar atau pendamping dan pelengkap hidupmu? Pasti ragu kan jawabnya. Lagian Tuhan juga gak mau kan kalo kita Cuma bisa berdoa tanpa ada berusaha. Berdoa adalah cara terakhir aku buat nyelesain masalah aku. Selagi aku masih bisa nyelesain itu sendiri, aku bakal nyelesain itu sendiri. Saat cara aku berhasil, baru aku bilang Terimakasih sama Tuhan. Karna saat aku bisa nyelesain masalah aku sendiri, itu tandanya Tuhan masih bersama aku. Tapi saat aku udah gak bisa lagi nyelesain masalah aku, makanya aku panggil Tuhan, karna aku merasa aku sudah terlalu jauh dari Dia. Kata-kata aku diatas emank ambigu, tapi cerdasi saja, ambil saja positifnya, karena aku adalah manusia berTuhan seutuhnya.

Nah sekarang dimana fungsi pacar? Pacar itu berfungsi paling terakhir saat gak ada lagi manusia lain yang bisa bantu aku. Iya, saat papa mama abang kakak adek teman2 dan aku sendiri udah gak bisa lagi menembus rasa kesepianku atas hidup aku, di saat itulah aku btuh pacar. Nah sekarang pertanyaannya, seberapa sering aku merasa kesepian atas hidupku? Dan jawabannya adalah SERING SEKALI. Ya, karna aku mulai banyak kehilangan kebersamaan dulu dalam hidupku.

Mau jujur, ini semua sejak mama pindah kerja ke Bukittinggi. Mama Cuma ada mulai dari Jumat malam sampai Minggu malam di rumah aku, untuk setiap minggunya. 3 malam 2 hari itu mama di rumah harus bisa membagi waktunya untuk memperhatikan papa, dua adek laki2 ku, pekerjaan rumah kami, hiburan mama pribadi, kebutuhan keluarga per minggu, dan istirahatnya. Itu semua membuat aku merasa tersingkir secara perlahan. Karna aku merasa adek2ku jauh lebih butuh perhatian itu daripada aku. Walaupun dalam hati, dan setiap malam aku sering nangis karna betapa aku merindukan kegiatan bercerita mesra dengan mama papa. Hal-hal sederhana seperti itu sudah mulai menjadi kegiatan yang janggal untuk aku dan papamama ku. Tidak seperti dulu, saat mama kerja di Padang dan setiap malam bisa bersama dengan kami.

Dari kecil aku bukan tipe yang penuntut untuk orangtua. Aku memang sering meminta, tapi kalau tidak diberi bukan masalah, dan kalau diberi aku akan senang sekali. Ya standar lah. Termasuk kadang untuk hal2 yang sebenarnya kebutuhanku. Misalnya, walaupun aku tahu adek aku yang SMP dapat jajan 15 ribu sehari sementara dia Cuma sekolah dari pagi ampe siang. Dan aku Cuma dapat jajan 10ribu sehari sementara aku kuliah dari pagi ampe sore. Dan ya aku tidak menuntut mulai dari hal-hal kecil seperti itu. Hingga mungkin kebutuhan ku yang wajib. Seperti saat pulang kuliah sore, aku hanya bisa melihat tumpukan cuci piring dan tidak ada sambal tersisa di tudung. Sementara tumpukan piring itu menandakan bahwa papa baru memasakkan nasi goreng untuk makan malam mereka. Ya walaupun ternyata aku tidak disisakan makanan apapun dan perutku sebenarnya lapar, ya aku juga gak pernah nuntut, minum air putih sampai kenyang bukan hal yang buruk, sekalian itung-itung diet.

Dan apa yang sebenarnya aku rasakan dihati gak pernah bisa benar2 aku keluarin. Tiap ada hal yang benar2 aku rasain aku keluarin dari mulut aku, OTOMATIS pasti air mata aku ngalir, dan aku gak akan bisa ngomong dengan jelas. Sedangkan hanya menuliskannya seperti ini saja sudah membuat air mataku bergelantung di pojok mata ku. Hmm.

Begitulah yang terjadi hingga lama-lama hubunganku dengan keluarga semakin renggang. Aku mulai malas memperhatikan rumah, dan merasa bergaul dengan teman2 jauh lebih menyenangkan. Aku mulai sering keluar malam menghabiskan waktu. Sebagai satu-satunya anak perempuan yang ada di rumah ini sekarang, jelas papamama kecewa sama apa yang udah aku lakukan. Tapi itu salah satu bentuk brontak ku, aku tu Cuma pengen bilang, “cobalah sekali-sekali perhatikan aku, tanyakan aku sedang apa, tanyakan aku sudah makan atau belum, tanyakan aku tentang cerita di kampus hari ini, tanyakan aku bagaimana perkembangan perkuliahanku, tanyakan aku banyak hal.”

Begitulah awalnya hingga kini. Mama sendiri tidak tahu apa makanan kesukaanku, minuman kesukaanku, dan bagaimana gaya fashionku. Sehingga kadang aku harus menangis saat mama membelikan ku kaos yang kekecilan atau kemeja yang terlalu feminism, karna aku tidak suka, tapi harus terima, dan tidak bisa komentar. Alhasil kemeja itu hanya bisa menjadi pajangan hingga akhirnya jatuh ketangan saudara atau orang lain yang lebih membutuhkan. Akhirnya apa? Aku jarang mendapat apa yang aku benar2 inginkan. Itu lah kadang hal-hal yang sering membuat aku harus menangis di malam hari. Saat aku merasa kesepian yang teramat dalam, dan aku tidak punya teman cerita. Sementara aku dan kawan kampus belum terlalu dekat, dan aku pun malu untuk menceritakan masalah pribadi aku dengan keluargaku ini. Aku punya teman dekat nanda, tapi ya aku juga masih malu untuk menceritakannya. Lagian mereka mungkin tidak akan percaya. Karna sampai saat ini aku masih bisa bersandiwara untuk menyembunyikan semuanya secara sempurna.

Saat-saat seperti itu kalau aku gak punya pacar, maka aku akan lari ke dunia maya, mencari orang yang tidak aku kenal dan mulai berbagi sedikit-sedikit. Tapi kadang kepuasan itu belum muncul juga. Saat itulah kita butuh pacar, bahwa kita punya orang dekat yang bisa kita percaya untuk mendengarkan semua keluh kesah kita. Yang kita percayakan suatu saat nanti temani kita bersama untuk ngadepin masalah apapun, untuk menembus kesepian apapun .

Ya itulah sebenarnya kenapa aku begitu membutuhkan pacar. Ya walaupun itu semua membuat aku kabur akan arti pacar. Sehingga akhirnya aku harus jatuh cinta dan patah hati berkali-kali karna cinta yang aku harapkan belum benar-benar cinta sejati aku, sehingga aku harus tinggalkan. Itulah makanya akhirnya aku menjadi berkelana dan bermain dengan banyak nama. Menyelami banyak jiwa jantan. Dan mengenal banyak hati. Hingga akhirnya November kemarin tepat tanggal satu, aku meyakinkan diriku bahwa Pahala Junedi Pandapotan Hutauruk, telah aku pilih untuk jadi pacar terakhir aku. Yang akan nemanin aku sampai aku mati. Terserah dia mau nyakitin aku sebagaimana mungkin, atau terserah dia punya kekurangan dan keterbatasan apapun, aku udah terlanjur milh dia. Dan dalam hati aku udah janji, kalaupun kali ini aku gagal lagi, aku gak akan pernah lagi mau mencoba cari yang baru. Aku akan menjadi gadis yang setia menunggu siapapun yang mau terima aku dengan kepingan yang tersisa. Tapi aku berharap itu tidak akan terjadi. Aku berharap Pahala pun bisa menerima aku apa adanya. Ya aku yang begini. Yang sangat punya banyak kekurangan.

Aku sendiri bingung ntah kenapa hati aku bisa begitu tiba2 mantap milih dia jadi pacar aku. Padahal sejak awal ketemu dia, sedikit pun menjadi kekasihnya gak pernah terlintas di kepalaku. Tapi yasudahlah, aku gak mau bahas masa lalu. Yang penting sekarang. Saat ini, aku benar-benar sayang dan butuh dia untuk nemenin hati aku, sampai nanti Tuhan memanggilku. Titik.