Senin, 05 Maret 2012

Tulisan Iseng Akhir Ini


Ntah mengapa akhir-akhir ini keinginanku untuk menulis lebih besar daripada biasanya. Mungkin karna tingkat stres dan lelah yang sedang tinggi. Ya menurutku cara terbaik untuk melepaskan penat pikiran adalah dengan menuliskannya. Aku memang suka berbicara, tapi bukan tipe yang suka berbicara tentang hal pribadi yang benar-benar pribadi. Sulit rasanya membuka diri untuk hal-hal tertentu. Maka itu sakit rasanya saat orang lain tidak mengerti apa yang aku maksud ketika aku sudah berusaha keras memampukan diri untuk mau membicarakannya. Jadi, memang lebih baik menuliskannya saja.

Aku ingin mencoba mendeskripsikan bagaimana aku sekarang. Ya sekarang aku sedang menikmati udara malam di kamarku, seperti biasanya di atas kasurku dan bersama laptop serta telepon genggamku, tidak lupa juga modem. Alat-alat yang bisa cepat menembus rasa sepiku. Aku bisa menelepon siapa yang aku mau. Berpesan-pesan ria. Atau menikmati ketergantunganku pada jejaring sosial di dunia maya.

Aku senang dengan dunia malam, baik itu diluar maupun hanya di dalam kamarku. Saat aku hanya bisa menikmatinya di dalam kamar, maka malam adalah ketenangan. Membuatku bisa menjadi diriku sendiri. Aku mau menangis, cemberut, punya tampang lesuh, menggunakan pakaian sembarangan, berfoto-foto ria, bernyanyi bebas, bahkan berbicara sendiri. Jika aku punya kesempatan menikmati malam di luar rumah akan menjadi sedikit berbeda. Aku tetap menyukai malam, tapi aku sangat takut gelap. Jadi cara aku menikmatinya adalah dengan merasakan belaian angin di setiap kulitku. Menikmati warna lampu kendaraan yang merah dan kuning (dua warna kesukaanku). Kemudian meyakinkan diriku bahwa yang merasa kedinginan di dunia ini bukan hanya aku, sehingga aku punya semangat tersendiri. Kemudian jika aku punya kesempatan menghabiskannya dengan orang lain, maka aku akan berusaha menjadikannya tempat curhatku secara tidak langsung tentang bagaimana hariku akhir-akhir ini. Tapi hal itu jarang sekali terjadi, karena jarang sekali kutemukan ada orang yang setia mendengar cerita membosankanku.

Kembali ke topic awal, bagaimana aku sekarang. Aku menikmati malam dan berbagai pikiran mondar-mandir di kepalaku. Mereka seperti senang sekali beraktivitas di kepalaku, bahkan di sela-sela tidurku. Aku tidak tidur nyenyak akhir-akhir ini. Coba aku tuliskan apa saja yang sering menjadi konsentrasi pikiranku akhir-akhir ini :

1.       Beasiswa SONODA Women University. Aku meninginkannya. Dosen-dosen sudah mendukung. Teman-teman juga. Akupun tentu sangat ingin. Tapi tentu tidak cukup sampai di situ saja. Aku harus belajar keras, dan itu dia masalahnya. Aku lebih senang melamun dan tidur akhir-akhir ini. Bisakah aku?
2.       Mama akan pindah kerja ke Pekanbaru. Minggu ini mama istirahat di rumah dan minggu depan mama akan mulai kerja di Pekanbaru. Hal menyedihkan karna semakin sedikit waktu yang ada untuk mama berada di rumah, yaitu hari Sabtu saja mungkin. Sanggupkah aku? Menjadi satu-satunya wanita di rumah ini. Melayani semua emosi papa yang dia sendiri sudah tidak bisa mengendalikannya, mengatur dua adik laki-lakiku yang sedang dalam tahap ingin kebebasan dan bertindak sesuka hati?
3.       Pahala. Dia pacar terakhir ku. Kami sudah berpisah dan aku yang memutuskan. Tetapi ya aku masih menyayanginya. Itu membuat aku masih memikirkannya. Aku ingin dia kembali padaku, tapi aku tak pernah tahu apa perasaannya. Sehingga aku harus membiarkan semua pikiran dan perasaan ini mengambang saja di udara dan ketika sudah berat maka biasanya hanya bisa hujan di pelupuk mataku. Tidak bisa berbuat lebih, dia tidak pernah memikirkanku masalahnya.
4.       Semangat belajarku yang rendah. Dalam hati niat belajarku begitu tinggi. Setiap belajar di kampus, dalam hatiku selalu berteriak, “ Nanti sampai rumah harus mengulang lagi pelajaran ini.” Akan tetapi sampai di rumah aku biasanya sudah kelelahan. Lalu harus membersihkan rumah dan segala tetek bengek dapur. Hingga akhirnya aku terlelap sendiri dan terbangun sekitar pukul 8 malam. Setelah itu aku akan melamun, online, atau menonton TV hingga larut, dan baru bisa tertidur lagi di atas jam 12.
5.       Aku tidak punya teman curhat yang benar-benar bisa aku percayai 100%. Biasanya aku akan menjadikan pacarku satu-satunya orang terpercaya, tapi sekarang kami sudah berpisah, dan tidak ada hak ku untuk membebaninya dengan cerita-ceritaku. Aku merasa sepi tidak punya teman cerita. Ya aku punya banyak teman memang. Tapi belum kutemukan yang bisa kupercayai 100%. Aku lebih senang bercerita dengan lelaki. Karna menurutku lebih kecil kemungkinan mereka untuk menceritakannya dengan orang lain. Itu mengapa akhirnya aku sering dikatakan punya banyak pacar dan gebetan, padahal kebanyakan hanya sebatas teman curhat.
6.       Aku ingin tidur lebih lama dan lebih nyenyak. Sehingga tidak pernah ada tidur yang cukup untukku.
7.       Aku ingin mencari uang. Aku sedang berupaya keras bagaimana aku bisa mendapat pekerjaan sederhana yang bisa aku lakukan sembari kuliah. Aku ingin mendapatkan uang. Jujur saja uang jajan dari orangtuaku tidak cukup untukku. Dan aku selalu merasa segan meminta pada orang tuaku mengingat uang kuliahku saja yang sudah berbunyi tiga juta untuk setiap semesternya.
8.       Aku ingin tidur.

Iya begitulah sekilas isi pikiranku sekarang. Mungkin aku punya nomor 9, 10, 11, 12, dst, tapi mungkin isinya hanyalah aku ingin tidur, tidur, dan di nomor terakhir tertulis, aku tidak ingin bangun.

Aku lelah. Yang membuat aku masih bisa berdiri tegap sampai malam ini, hanya satu, Dialah Yesus, yang selalu kujadikan alasan kuat untuk semua kelemahanku. Yesus, mereka semua telah meninggalkanku, namun ku tahu hanya Kau lah yang tak pernah melakukan itu, sekejam apapun aku berbuat kepadaMu. Terimakasih atas seluruh kesabaranMu pada aku sang pendosa ini. Aku mencintai Mu.

Minggu, 04 Maret 2012

Hal Tersedih


Hal tersedih buatku adalah ketika kita sudah bekerja keras demi hasil yang memuaskan untuk orang yang sama sekali tidak pernah mengharapkan itu. Sakit sekali rasanya melihat tidak ada yang perlu bangga akan kerja keras yang sudah aku lakukan. Air mata pun tak perlu pakai waktu untuk keluar, jika aku sudah terhanyut dalam gelombang sakit yang sedih ini.

Sedih sekali rasanya saat aku menyadari berbedanya cara aku dihargai di dalam dan di luar rumah ini.

Dari SMA semua mulai terasa. Kelas satu, aku mendapat rangking 3 pada semester 1 dan 2. Kelas dua, aku mendapat rangking 1 pada semester 1 dan 2. Kelas 3 aku mendapat rangking 1 pada semester 1. Dan ketika pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) pada semester 2 kelas 3, aku pun mendapat rangking 1.

Kini kuliah pun semuanya sama. Semester 1 aku mendapat IP 3.89. Semester 2 aku mendapat IP 3.85. Semester 3 aku mendapat IP 3.71. Pada semester 1 aku lulus Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (semacam tes TOEFL nya Jepang) level 5. Pada semester itu, diantara teman-teman seangkatan, hanya aku yang berani mengambil ujian itu. Pada semester 3 aku lulus ujian yang sama untuk level 4. Makin kecil levelnya makin tinggi tingkat kesulitannya. Pada semester ini, hanya aku yang lulus dari semua teman seangkatan yang ikut di level yang sama.

Semuanya terjadi sekitar 5 tahunan dan selama itu aku tidak pernah mendengar kata-kata bangga dari orangtuaku atau saudaraku untuk hasil kerja kerasku. Apa hasil yang aku dapat benar-benar tidak memuaskan sama sekali? Atau memang aku yang tidak pernah pantas untuk mendapat sentuhan semangat hangat dari kalian?

Bagaimana dengan adik laki-lakiku. Dia baru naik 1 SMA tahun ini, dan ketika dia mendapat rangking 7 di kelasnya pada semester1 lalu, semua nya begitu senang. Kami merayakannya bahkan sambil membakar ikan di halaman rumah, dan membagi-bagikannya ke tetangga sambil mengatakan “ini ikan bang Aan dapat rangking 7” Kemudian apapun permintaannya begitu mudah untuk dikabulkan. Mulai dari sepatu kulit yang ntah mau dipakai kapan dengan harga 300ribu. Lalu sebuah gitar yang hanya sekedar untuk kegiatan ekstrakulikuler. Lalu sepasang sepatu futsal yang ntah berapa pula harganya. Kemudian menyusul sepatu biasa untuk sekolah seharian. Dan banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang sering sekali membuat aku iri.

Jangankan untuk membeli sepatu 300ribu. Saking takutnya aku meminta uang untuk beli sepatu saat aku benar-benar butuh, akupun terpaksa meminjam uang temanku sekitar 100ribu. Dan dengan hati-hati aku mengirim pesan singkat ke mama. “Ma, boleh lia beli sepatu Ma. Harganya cuma 100ribu.”

Dan kini aku merawat sepatu itu dengan sangat, karna jelas dalam waktu setahun ke depan aku tidak akan dapat sepatu baru lagi. Kecuali aku mau mendengar teriakan, “BARU KEMARIN BELI SEPATU, UDAH SEPATU LAGI. UDAH BERAPA BANYAK SEPATUMU TU.”
-Iya Ma memang banyak sepatu lia. Sepatu 30ribu di pasar yang lia beli setiap dua bulan sekali. Ya uang belanja aku cuma bisa beli sepatu seharga segitu. Sementara sepatu harga segitu ya memang hanya tahan untuk 2 bulan. Bagaimana tidak kelihatannya sepatuku banyak?-

Aku tidak pernah mengharapkan materi berupa hadiah-hadiah mewah atau perayaan yang berkesan untuk semua hasil kerja kerasku. Aku tidak pernah meminta uang belanja ku untuk dilebihkan. Apalagi meminta barang-barang berharga.

Elusan lembut di rambutku. Atau mungkin “Selamat Lia.” Atau “Hebat Lia ya”. Atau mungkin “Tetap pertahankan ya.”. Atau “Wah, memang deh anak mama/papa”.

APA ITU MAHAL MA? APA ITU SUSAH PA?

Sekarang lihat bagaimana aku dihargai di luar rumahku.

Paling menyakitkan adalah waktu SMA. Seorang guru Bahasa Indonesia, Ibu Farida, dia terang-terangan mengakui di kelas, bahwa dia sangat tidak menyukai prilakuku. Tapi dia menjanjikan ku sebuah tas berwarna kuning, jika aku mendapat juara 1 untuk hasil Ujian Nasional di SMA. Aku mendapatkan juara itu dan beliau menepati janjinya. Tas itu berupa tas jinjing ibu-ibu. Aku tidak terlalu feminim untuk tas itu, dan akhirnya aku memberikannya kepada mama. Aku harap mama pun senang akan tas itu. Tapi ternyata, hehehe, mama tidak juga kelihatan senang, tetap biasa saja. Sakit sekali.

Bagaimana perilaku ibu Farida yang tidak menyukaiku dan perilaku mama yang seharusnya menyukaiku.
Oh,Tuhan. Aku sedih sekali sekarang.

Apa ini salah Kakak ku yang begitu hebat bisa menyambung hidup ke kota Jogjakarta dengan biayanya sendiri. Bisa memainkan banyak alat musik tanpa perlu les/kursus. Bisa pergi main teater sampai ke Makasar.

Apa ini salah Abang ku yang begitu pintar. Dapat juara 1 untuk olimpiade komputer se-Sumatera Barat. Bisa lulus ujian Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dan bisa langsung dapat kerja sebagai pegawai negeri setelah tamat. Dan kini dia telah berpenghasilan sendiri.

Apa karna mereka yang begitu hebat dan pintar, maka apapun yang aku lakukan terkesan biasa saja? Tapi mengapa adik laki-lakiku (Aan) yang hanya mendapat rangking 7 sepertinya mendapat perlakuan spesial?  Mengerikan sekali keadaan ini untuk jiwa remaja labil sepertiku.

Di dunia kampusku, aku dihargai dan dibanggakan oleh beberapa dosen dan teman-temanku serta beberapa seniorku. Bahkan dosen-dosen tersebut tidak segan-segan membanggakan aku di depan teman-teman seangkatanku, agar aku menjadi teladan semangat untuk teman-teman yang lain. Teman-temanku terus menyemangatiku untuk belajar agar bisa mendapatkan beasiswa ke Jepang (hanya bisa satu orang setiap tahun). Seniorku pun membanggakanku dan menyemangatiku untuk tetap semangat dan jangan sombong.
Dan sampai sekarang ini, ya aku berdiri atas semangat-semangat seperti itu. Walaupun aku tidak tahu seberapa ikhlas mereka menyemangatiku. Karna tidak perlu munafik, aku tahu, teman-temanku juga pasti ingin sekali mendapat beasiswa ke Jepang itu.

Aku tahu, mama dan papa menyembunyikan kekecewaan mereka terhadapku, karna aku hanya bisa masuk universitas swasta di Padang dan mengambil Jurusan Sastra Jepang, jurusan yang tidak jelas (bagi mereka). Sebenarnya aku bisa saja mengecap pendidikan di Universitas Padjajaran, Bandung. Aku lulus SNMPTN kemarin, tapi hanya karna papa sakit stroke dan membutuhkan banyak biaya, aku tidak bisa memaksakan cita-citaku untuk merantau. Lalu salahku, jika akhirnya aku tercampak ke universitas swasta?

Ada perbincangan menyakitkan yang masih segar di kepalaku.
Mama : “Di Bandung itu tidak baik pergaulannya. Lagian jauh sekali.”
Aku  : “Ya yang lia tahu di UNPAD yang sastra jepangnya bagus, Ma.”
Mama : “Iya cari yang dekat-dekat kek.”
Papa : “kok bisa sampai Bandung yang dipilih anak ni.”
Mama : “Itulah sayapun ndak tahu apa yang dipilihnya pas SNMPTN. Dia pun gak ada kasih tahu apa yang dipilihnya untuk SNMPTN. Mungkin kalau ambil yang dekat2 kan bisa masuk negeri. ”
Aku hanya diam dan hanya bisa mengutuk dalam hati.
(Lia mana tahu ma! Emang ada mama peduli kemarin tu lia ambil jurusan apa untuk SNMPTN? Emang ada peduli mama Lia ni sukanya jurusan apa, minatnya apa, kelebihannya apa?! Emang ada peduli mama kemarin tu Lia ambil universitas tujuan apa?! Emang ada mama peduli gimana kerjakeras Lia buat belajar, biar lulus SNMPTN tu. Tahu mama, kawan-kawan lia les sana-sini. Tahu mama, Lia cuma belajar sendiri dari buku SNMPTN yang lia beli sendiri 30ribu di pasar burung/loak??! Ada mama peduli?! Nggak, kan!? Nah sekarang bisa-bisanya menyalahkan lia atas semua pilihan Lia!!!)

Aku masih ingat bahkan setiap aku mengingat setiap kejadian. Rasa sakit itu mendera lagi. Bagaimana aku begitu kesal. Begitu muak dan membenci dunia ini. Aku menangis setiap malam. Bagaimana aku tidak sedih? Kawan-kawanku yang lulus SNMPTN udah sibuk sana-sini mengurus segala keperluan, sementara aku, mamaku tetap bekerja di kantornya seperti biasa, papa beristirahat tenang karna baru keluar rumah sakit, dan kakakku pun yang kebetulan lagi di Padang menyarankan untuk tidak usah saja kuliah tahun ini.

Setiap malam, dalam tangisku, Tuhanpun bahkan sudah kucaci. Betapa aku merasa sedih. Ya sekarang akupun menangis menuliskan ini semua.

Aku mengunci diri di kamar dan mengirimi mamaku pesan-pesan singkat sesering mungkin agar aku secepatnya bisa mengurus dimana aku kuliah, karna bisa saja semua pendaftaran tutup. Yang aku ingin, aku harus kuliah. Dan begitulah akhirnya, mamaku mengijinkan aku kuliah di universitas swasta ini, dengan biaya 3 juta setiap semesternya. Walaupun aku tahu itu berat untuk mama, tapi di satu sisi aku puas, secara tidak langsung menghukum mama, karna ketidakpeduliannya terhadapku kemarin.

Dan bayangkan, saking tidak adanya kepedulian keluargaku. Akupun mengurus semua kebutuhan kuliah ku dengan Cris, pacarku (waktu itu). Di saat itulah pertama kali aku merasa bahwa kebutuhan jiwaku terpenuhi sempurna. Cris tidak hanya setia saat itu. Dari awal dia sudah setia mengantar aku untuk ke tempat ujian SNMPTN, padahal dia tidak ikut ujian SNMPTN, dan pasrah saja di kuliahkan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA). Cris memang sosok yang sempurna saat itu buat ku. Tapi mungkin karna memang tidak jodoh, tidak lama kemudian kami berpisah. Dan sejak saat itu aku menjadi kabur akan arti cinta dan pacar. Dan sejak saat itu aku menjadi haus akan cinta dan pacar hingga saat ini.

Begitulah sejarah singkat dan sepenggal kisah menyakitkan bagaimana akhirnya aku ikhlas kuliah di Universitas Bung Hatta. Walaupun terkadang mulutku masih begitu malu mengakui nama universitas ini, tapi dalam hati aku selalu menguatkan diri sendiri, untuk membuktikan pada dunia, bahwa aku bisa lebih dari mereka suatu saat nanti.

Sampai detik ini aku berusaha belajar dengan semangatku sendiri. Memberi sugesti bahwa semua pada akhirnya untung/ruginya hanya milik masa depanku. Terus berpikir positif bahwa semua akan indah pada waktunya. Terus berusaha menjadikan “ketidakpedulian” mereka sebagai alasan aku untuk semakin maju untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih memuaskan.

Nah. Sekarang kalau Papa dan Mama malu dengan keberadaanku yang hanya bisa kuliah di universitas swasta, SALAH SIAPA?!? SALAH AKU?!

Sering sekali aku berpikir, seandainya saja aku punya uang lebih banyak, ingin sekali aku meninggalkan mereka. Mentang-mentang aku masih di bawah umur dan belum bisa mencukupi segala kebutuhanku sendiri. Mentang-mentang mereka yang punya duit dan aku masih hanya bisa meminta. Bukan hanya sekali dua kali aku ingin kabur dari rumah ini. Bukan sekali dua kali setan merayu ku untuk mengakhiri hidup ini di kamar ini, kamar yang setia menonton perasaanku sebenarnya.

Kini aku jalani hari-hariku dengan semangatku sendiri. Berupaya, berjuang, belajar, dengan semangatku sendiri. Meyakinkan diriku bahwa aku akan buktikan suatu saat nanti. Semua masa lalu yang suram biarlah menjadi kenangan. Satu yang aku terus berusaha ingat adalah berdoa dan pasrah kepada Tuhan. Tidak boleh lagi ada hari dimana aku mengutuki Tuhan. Tidak boleh lagi ada kesempatan untuk setan merayuku. Aku harus semangat, tetap tersenyum, dan bersyukur.

Tapi sampai kapan? Apakah benar-benar ada akhir dimana mereka akhirnya peduli dan menghargai keberadaanku?

Sekarang aku terhenyak di kasur ku dan merenung panjang. Sekarang aku tidak punya pacar. Biasanya saat-saat sedih begini. Saat-saat keluarga tidak bisa menghangatkanku, aku akan merengek pada pacarku. Tapi sekarang aku tidak punya. Kakak dan abang pun tidak pernah benar-benar peduli denganku. Semua hubungan kekeluargaan antara kami seperti hanya sekedar untuk formal belaka, agar semua melihat kami seperti keluarga harmonis. Saat-saat seperti ini aku tak bisa menahan air mataku.  Saat hanya Tuhan tempatku mengadu. Dan saat jemari ini sedikit kuat, maka dia akan menari-nari menuliskan perasaanku hingga aku sedikit lega dan kisah ini selesai. Semoga besok aku semangat lagi karna memang besok aku harus semangat terus. J

Sabtu, 03 Maret 2012

Aku Benci Hatiku


Memilihmu adalah kebodohan terbesar hatiku.
Hei, Hati ! Tidak lelahkah kau merasa sakit?
Hei, Hati ! Tidak jenuhkah kau selalu ditinggalkan?
Hei, Hati ! Tidak sedihkah kau merasa sepi?
Sudahlah! Aku saja sudah bosan dengan semua ini!
Maaf,aku bukan bosan, aku muak!
Mengapa kau selalu salah memilih?
Mengapa kau selalu melakukan pekerjaan bodoh?
Kau menyiksaku!
Aku benci padamu!
Ingin sekali kubuang kau!
Biar aku hidup dan mati tanpa hati!
Lihat apa yang sudah kau lakukan?
Ini sudah kali keberapa kau membuat raga ini remuk!
Ini sudah kali keberapa kau buat ku hidup bagai mayat!
SUDAH KALI KETUJUH !
Hei, Hati ! Tidak pernahkah kau pikirkan ragaku?
Kau menguras semua tenagaku.
Perlahan-lahan kau hancurkan sisa hidupku.
Aku benci kau hatiku.
Sudahlah, aku mohon padamu, janganlah kau memilih lagi.
Sudahlah, aku lelah bercinta.
Kau pikir tidak jenuh kah aku menyelami jiwa-jiwa mereka?
Berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, namun akhirnya aku sadar aku tidak pernah berarti untuk mereka?
Kau pikir itu tidak sakit, ha?!
Sudahlah, aku mohon padamu, berhentilah kau bicara.
Aku bosan mendengarkan suaramu.
Aku bosan mematuhi setiap pilihanmu.
Aku bagai budakmu.
Kau tak pernah tahu rasanya sakit.
Kau tak pernah tahu rasanya lemas.
Sudahlah, kumohon.
Aku ingin jadi manusia tanpa hati.


Kamis, 01 Maret 2012

Seminggu Sudah

Hari-hari sedih kulalui sendiri. Semua kembali lagi seperti dulu. Tidak seperti biasa, aku akan mengadukan setiap hal kecil kepadanya, sekedar untuk berbagi cerita. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi cerita. Dia sepertinya begitu mengikhlaskan kepergianku dan itu semakin menyiksaku. Mau bagaimana lagi, ini semua pilihanku. Aku telah memilih untuk meninggalkannya. Aku harus menanggung semua resikonya, bagaimana pun akhirnya perasaan ku terlunta-lunta terbakar matahari, menguap, dan ikut luluh bersama hujan saat awan sudah begitu berat.

Aku belum bisa melupakannya, mungkin sebuah kewajaran. Aku masih menyayanginya, mungkin sebuah kebetulan. Aku ingin kembali padanya, mungkin hanya sebatas impian. Aku tidak melihat tanda-tanda itu sejak seminggu yang lalu, sejak aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini.

Semua ini demi kebaikan aku. Aku harus percaya itu. Ini lah satu-satunya jalan, agar aku bisa menjadi lebih baik dan tidak sekedar menjadi bebannya lagi. Sudah cukup rasanya 3 bulan lebih aku selalu menjadi anak-anak baginya, yang selalu meminta terus dan terus perhatiannya. Akupun sadar buah aku sudah terlalu sering membuatnya lelah dengan segala kritikan ku. Padahal intinya hanya satu, aku tak pernah bisa menerima kekurangannya. Tapi dia tak pernah berkomentar banyak, dia hanya diam, dan mendengarkan setiap keluhanku. Lalu dengan sabar mengucapkan kata maaf untuk mengalah. Bukankah Pahala sungguh luar biasa? Ya, dia memang hebat.

Tepat seminggu yang lalu aku akhirnya mengambil keputusan. Hubungan ini tidak bisa diperlama lagi, Pahala selalu memberikan yang terbaik, tapi sampai kemarinpun aku belum bisa menerima dia apadanya. Aku merasa tidak pantas seketika. Aku terlalu kanak-kanak. Ya, sampai saat ini aku belum dewasa. Ini memang selalu menjadi kelemahanku setiap menjalin hubungan dengan laki-laki.

Tuhan, maafkanlah aku yang selalu hanya bisa menangisi semuanya. Aku tak pernah benar-benar bisa kuat untuk meninggalkannya, tapi aku pun tak ingin membebaninya. Aku harap Engkau mau mendampingiku dalam masa ini, masa dimana aku berusaha keras untuk menjadi dewasa, untuk dirinya, agar aku pun bisa membuatnya bangga memilikiku.

Sudah seminggu ini kami sangat minim komunikasi, semua ini yang terjadi mendadak, sangat menyiksaku. Sehingga kadang aku mengingkari janjiku dan mengiriminya pesan singkat sehari setiap kali, dengan seribu alasan dan gayaku, agar dia mau berbicara dengan ku. Ya aku sudah membuang gengsi jauh-jauh, perasaan sakit ini belum bisa kutanggung sendiri hanya demi menahan gengsi. Walaupun aku tak kunjung mendapat balasan yang hangat seperti yang kuinginkan, tapi biarlah ini termasuk cobaan.

Semua ini aku lakukan supaya aku bisa menjadi lebih dewasa. Supaya aku tidak terus-terusan memaksa memberikan semua perhatiannya kepadaku. Supaya aku tidak terus saja mengeluh akan kekurangannya. Semua ini akan aku coba jalani dengan ikhlas, bagaimanapun nanti akhirnya, mau atau tidak kah dia kembali padaku, aku tidak peduli. Setidaknya sekarang yang aku tahu, aku ingin dewasa, untuk dia, untuk Pahala.

Sejak aku kenal dia (SMA) hingga sekarang aku telah memutuskan berpisah dengannya, aku tidak pernah benar-benar mengetahui apa perasaannya. Pahala tipe pria yang tertutup dan sulit berkomunikasi untuk masalah pribadi. Aku harap dengan usaha ku untuk menjadi dewasa demi dia ini, akhirnya akan membuat dia merasa nyaman berbagi dengan ku. Hehehe, aku yakin kalau aku sudah dewasa, Pahala pasti senang dan dia pasti mau terbuka denganku perlahan-lahan. Dia tertutup pasti karna aku terlalu kanak-kanak untuk cerita hidupnya. Sabar ya Pahala, jika sekarang kamu masih sayang aku, jangan tinggalin aku dulu yaa, tunggu aku bekerja keras agar bisa jadi dewasa, biar kita bisa berbagi cerita bersama, layaknya seorang abang dan adek.

Huaaaa aku berharap nama mu lah yang akan bersanding dengan namaku nanti di kartu undangan berpita kuning itu, tanda papa dan mama telah mempercayakan nya untuk menjadi pelindung dan orangtua kedua bagiku. Waah, aku ingin sekali semua ini cepat berlalu. Aku ingin sekali segera menjadi puteri yang menikahi pangerannya dan hidup bahagia bersama selamanya. Aku ingin sekali berada di peluknya setiap malam. Aku ingin sekali menatap wajahnya sebelum tidur. Aku ingin sekali bersamanya. Pahala, apakah dia memikirkan hal yang sama? Hahaha aku tahu dia tak kan pernah menjawab, toh aku tidak akan pernah berani menanyakannya, kecuali aku memberi tahunya tentang keberadaan blog ini. Hahaha. GILA!

Mulai dari sekarang :
1.       Aku harus semangat kuliah dan rajin belajar.
2.      Aku harus bisa menahan semua ego ku untuk mencari perhatian dan lebih berpusat untuk memberi perhatian.
3.       Aku harus belajar ikhlas
4.       Aku harus percaya bahwa Tuhan telah menakdirkannya untukku
5.       Aku harus mau menerima dia apa adanya.
6.       Aku harus bisa membuat banyak orang-orang bangga
7.       Aku harus bisa menjadi yang terbaik untuk keluargaku.
8.       Aku harus menjadi dewasa, dan tidak merepotkan siapa-siapa lagi.
9.       Aku harus bisa berdiri di kaki ku sendiri dan mandiri dan tidak manja untuk segala keperluanku.
1.   Aku harus BISAAA, karna Tuhan bersamaku.

Aku bisa.

Minggu, 26 Februari 2012

Abang Hebat, begitulah puja terakhirku


Judul yang aneh ya? Hwuaaa!
Kami udah putus, hmm, ini hari ke 4 aku udah gak jadian lagi sama dia. Aku juga bingung mau cerita darimana. Tapi yang pasti sekarang aku sedih banget.
Tahu gak, dulu aku pernah bilang gini “don’t ever let me go yaa.” Dan dia jawab “ok2”
Dulu tiap ada masalah, dia sering ngomong “yaudah.apapun keputusan dek sekarang abang terima.”
Dan aku udah pernah bilang kalau aku gak suka dia ngomong gitu, dan dia minta maaf tanda janji gak bakal ngomong gitu. Aku juga udah bilang, aku ngerasa gak dipertahanin, aku ngerasa gak berarti buat dia. Dan dia minta maaf.
Dulu aku pernah bilang “apapun sakitnya, aku masih kuat asal sama abang.” Dan dia bilang, “iya abang juga masih sayang dek, dan masih belum bisa tanpa dek.”
TAPI APA SEKARANG? Belum sampe juga sebulan sejak dia ngomong gitu. Pas aku ngajak putus, dia dengan santainya cuma jawab “iyalah dek kalau itu keputusan dek.” Rasanya aku pengen mati detik itu juga. Rasanya aku benar-benar kesal pengen nonjok apapun, pengen ngelempar apa yang aku lihat!

Sehingga akhirnya sekarang kami putus begitu saja. Aku bilang ke dia kalau aku bosan dan nyerah dengan sifat cuek dia. Tapi dia gak ada ngajak aku buat bertahan, dia biarin aku pergi. Dan begitu saja, aku kehilangan sosok yang sudah kutunggu begitu lama. Dan aku hanya bisa menangis tertahan menyadari dia sanggup kehilangan aku. Tuhaaaan T.T ya sekarang aku hanya bisa menyebut namanya dalam doa.
Pertanyaan aku cuma satu, sebenarnya gimana sih perasaan pahala ke aku? Di setiap sms pagi dan malamnya selalu bicara bahwa dia menyayangiku selalu. Tapi mana buktinya? Kok begini lakunya? Aku kecewa sama pahala.
Inilah alasannya mengapa dulu aku membatasi perasaanku padamu. Inilah alasanku mengapa dulu aku memilih untuk tidak menyayangimu lebih dari teman. Inilah alasanku mengapa dulu aku tidak berniat menjalin hubungan serius denganmu. Ya karna aku takut, aku takut kehilanganmu. T.T
Sekarang apa? Hal yang aku takutkan sudah terjadi. Kini ya aku cuma bisa menulisnya saja. Akupun tidak bisa banyak berkata-kata lagi. Ntah bagaimana caranya agar pahala tahu perasaan aku. Berharap saja sebelum akhirnya aku harus mati, aku sempat memberi tahunya tentang keberadaan blog ini. Ya walaupun jelas sudah terlambat. Setidaknya dia tahu. :(
Pahala..
Aku mungkin memang bukan perempuan rupawan yang bisa buat kamu bangga saat menggenggam tanganku..
Aku mungkin memang bukan perempuan pintar yang bisa buat kamu bangga saat berbicara tentangku..
Aku mungkin memang bukan perempuan baik hati yang bisa buat kamu bangga saat di depan teman-temanmu..
Tapi aku bangga dengan rasa ini, yang bisa melihatmu tersenyum walau bukan karnaku..

Waktu masih panjang, dan aku belum bisa ketahui apapun yang akan terjadi esok, tapi aku tidak bisa munafik, sekarang aku sangat berharap dia kembali, rangkul aku lagi, buktikan bahwa memang kamu membutuhkanku, tak peduli berapapun jarak antara kita sekarang..
Tapi mungkin juga di luar sana dia sudah menunggumu, bidadari cantik yang baik hati serta pintar, yang akan menemanimu hingga akhir hayatmu, membahagiakanmu, dan selalu hadirkan senyum di wajahmu..
Walaupun aku tidak bisa melakukan itu, tapi aku bangga jika bisa melihatnya dengan mataku sendiri..
Aku bangga sanggup melihat mu bahagia, sekalipun bukan dengan aku..

Pahala, aku sayang kamu.. Maaf kalau aku bukan perempuan yang kamu inginkan..
Doakan aku ya, agar akupun segera mendapat pangeranku yang memang pantas untukku..
Maaf Pahala, kalau sampai detik inipun, aku masih mengecewakanmu, aku yang tak pernah pantas bersanding dengan hatimu..

Terimakasih untuk waktu yang masih sempat kau beri kemarin, tak kan kulupakan, sayang abang selalu J