Senin, 03 Februari 2014

27 Januari Punya Cerita

Awal tahun yang kacau atau umur 20 tahun yang sulit?

Aku menikmati awan siang itu. Mereka tersenyum lembut, seakan mampu mendengar suara hatiku.

27 Janurari 2014 adalah hari yang tak akan terlupakan.

Hari dengan masalah, yang lagi-lagi memaksaku untuk bersikap dewasa, seperti yang semua orang inginkan.

Bertemu dan merasakan saling mencintai bersama namamu adalah sesuatu yang cukup indah bagiku untuk mengawali tahun ini. Aku akui, kau memang bukan cinta yang pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, bahkan keenam, juga bukan yang ketujuh bagiku. Tapi cinta yang aku rasakan untukmu bukanlah yang lebih buruk daripada cinta-cinta sebelumnya. Ya, aku mencintaimu.

Banyak yang ingin aku katakan. Banyak yang ingin aku teriakan.

Tapi dedaunan itu berayun-ayun, memaksaku untuk tetap tenang, memintaku untuk memaafkan namamu perlahan-lahan dalam hatiku.

Hingga detik aku menulis semua ini, aku masih belum bisa percaya semua yang telah terjadi.

Banyak kenangan berputar-putar di kepalaku. Kenangan yang sebenarnya sejak awal telah memperingatkanku bahwa aku akan mengalami sesuatu yang pahit seperti ini.

Kisah (kurang lebih) dua tahun yang lalu. Bersama dia, lelaki yang berinisial P.
Persis. Hubungan kami kandas, seminggu setelah kejadian aku tidak diijinkan melihat telepon genggamnya. Hubungan kami kandas, setelah akhirnya ketahuan bahwa ternyata dia masih memiliki hubungan dengan wanita yang katanya adalah mantan kekasihnya. Tapi waktu itu nasibku tidak terlalu mujur. Setelah aku memilih meninggalkannya, dia pun kembali kepada wanita itu, hingga kini. Tak bisa kujelaskan bagaimana sedihnya aku waktu itu. Sekian kali putus cinta, ntah mengapa hanya dia yang mampu membuatku benar-benar menangis, saat memutuskan untuk meninggalkannya. Cerita lebih lengkap bisa kau baca di sini :

Setelah waktu berlalu dan aku mengerti bahwa dia bukan lelaki yang cukup baik untukku, kini aku merasa beruntung, beruntung telah memilih meninggalkannya.

Lalu aku kembali mengingat namamu. Bukankah persis? Hubungan kita pun menjadi tidak jelas, seminggu setelah aku tak kau ijinkan melihat telepon genggammu. Perasaan buruk benar-benar menghantui ku sejak senja itu. Aku masih ingat bagaimana kau menggunakan sekuat tenagamu untuk menarik telepon mu dari genggamanku.

Tak perlu kujelaskan secara rinci, apa saja yang telah aku pertanyakan, dan apa saja yang telah aku sampaikan kepadamu. Sejak aku mulai menyadari aku mencintaimu, aku telah mempersiapkan keikhlasan, dan sejak saat itu, aku pun mempertebal rasa ikhlas itu, bersiap-siap.

Ya, akhirnya terjadi juga cerita yang sama. Kau pun ternyata masih menjalin rasa dengan wanita yang kau katakan telah menjadi mantanmu. Aku hanya bisa tertawa pahit bersama pepohonan di medan bapaneh itu. Angin semilir membelai rambutku. Mereka berusaha meredakan panas dalam dadaku yang hingga kini belum mampu kukeluarkan.

Tak ku sangka, kau mampu melakukannya.

Dari sekian banyak ucapanmu, bisakah kita menghitung pernyataan yang bukan kebohongan?
Dari sekian mimpi yang kau rencanakan bersamaku, mimpi mana yang benar-benar bisa aku harapkan terjadi?
Dari sekian janji yang kau titipkan pada hatiku, masih adakah yang bisa aku tagih di hari-hari selanjutnya?
Hahaha.

Aku terlalu dini untuk rasa sakit ini.

Kepalaku pun berputar ke kisah satu tahun yang lalu.

Tentang kakak kandung ku yang dikecewakan kekasihnya di perantauan, kota pelajar, Jogjakarta.  Bukankah persis sama? Aku telah menceritakannya bukan? Bagaimana keluargaku telah begitu mempercayai mereka untuk tinggal bersama sepupu lainnya di bawah atap yang sama?

Aku masih mengingat jelas, bagaimana aku tidak bisa membantu kakak ku melewati masa sulitnya saat itu. Air mataku menggantung. Bagaimana bisa aku menyakiti wanita lain dengan cara yang sama, setelah aku tidak bisa membantu kakak ku melalui hari yang sulit itu?

Melihat air mata yang mengalir dari mata kekasih simpananmu pagi dan sore itu, aku merasa sakit yang luar biasa, yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Tidak hanya satu rasa sakit yang ku emban dalam dadaku. Aku merasakan sakit kekasihmu, aku juga kembali merasakan sakit kakakku, aku merasakan sakitnya aku yang tidak bisa membantu mereka berdua, dan berikut rasa sakitku sendiri karna semua kebohonganmu. Sakit. Luar biasa. Bug, berdebar kerasa jantungku.

Tak ada yang bisa aku lakukan. Aku tak tahu bagaimana. Mataku panas, tapi dia enggan menangis. Dadaku sesak, tapi bibirku bergetar setiap ingin bicara. Kepalaku berat dan penuh, tapi tak satupun menghasilkan keputusan. Jemariku ngilu, tapi tak bisa bergerak.

Kupu-kupu berterbangan indah di depanku, pindah dari bunga satu ke bunga lainnya. Mengelilingi tetumbuhan kecil di bawah pohon-pohon besar itu. Mereka melantunkan lagu yang benar-benar menyayat hatiku, tapi ntah mengapa bisa menyisipkan rasa bahagia dalam hatiku. Aku tak mampu bergeming, menikmati mereka menari dan bernyanyi.

“Aku ingin bersamamu.” desis hatiku. Kemudian tetiba kau hadir dan meminta ijin untuk duduk di sampingku. Walaupun hanya sebentar, aku hargai waktu yang kau beri padaku, menemaniku menikmati alam sore itu, dalam diam. Ya, setidaknya kita bersama-sama.

Senja tiba, dan kuteguk sebotol susu cokelat. Perutku panas tapi dia tidak lapar. Ntah kemana nafsu makan ku dibawa terbang. Ini kali pertama, seumur hidupku, aku mampu mengacuhkan perutku hingga 3 hari.

“ Romeo, take me somewhere we can be alone. I’ll be waiting, all thats left to do is run. You’ll be the prince and I’ll be the princess. Its a love story, baby just say yes! Romeo, save me, they try to tell me how to feel. This love is difficult, but its real. Dont be afraid, we’ll make it up of this mess. Its a love story, baby just say yes! ”

Parah. Aku benar-benar merasa cukup tua setelah kejadian ini.


Ya, kau menghadirkan bahagia dan sakit secara bersamaan. 
Terimakasih.

Jumat, 17 Januari 2014

FIB EXPO UBH 2014

TEMA : "Segitiga Muda dalam Samudera Budaya"

10 fakta FIB EXPO 2014 :
1. Program Kerja @BEMMFIB_UBH
2. 10-15 Maret 2014
3. Terdiri dari berbagai perlombaan, penampilan, seminar, dan acara hiburan kebudayaan
4. Ada 3 festival kebudayaan yaitu English Festival (E-Fest), Festival Minangkabau, dan Japan Festival (J-Fest+BunkasaiXIV)
5. Juga 6 lomba populer : Sastrakustik, Stand Up Comedy, Fotografi, Musik Tradisi, Marching Band, Karikatur Bung Hatta, Cerdas Cermat 3 bahasa dan budaya.
6 Menyelenggarakan Mubes dan Reuni Akbar Alumni FIB UBH
7. Bazar Meriah
8. Penampilan drama 3 bahasa, drama bahasa Jepang, drama Minangkabau, dan teater, serta band.
9. Peserta terbuka untuk SMP, SMA/SMK, PT/Umum
10. CP : 085374147879 (deby) / 081947448241 (aziz) / 083182158222 (lia)

Stand Pendaftaran (sekretariat) : Gedung H, Kampus 1 UBH, Ulakkarang, Padang.

JENIS KEGIATAN 

Festival Kebudayaan Minangkabau :
1. Seminar Kearifan Lokal
2. Lomba Lagu Minangkabau
3. Lomba Cipta dan Baca Puisi
4. Fashion Show Pakaian Adat

J-Fest (Japan Festival) + Bunkasai XIV
1. Workshop Manga : Teknik Menggambar Anime
2. Cosplay Harajuku
3. Sudoku 

E-Fest (English Festival) 
1. Seminar TOEFL
2. Speech
3. Spelling Bee
4. Debate
5. Singing 
6. Story Telling

Lomba Populer 
1. Sastrakustik 
2. Marching Band 
3. Stand Up Comedy 
4. Fotografi 
5. Lomba Musik Tradisi 
6. Lomba Karikatur Bung Hatta 
7. Cerdas Cermat 3 Bahasa dan Budaya 



Penampilan :
1. Teater
2. Drama Minangkabau
3. Drama Ichi Nen Sei 
4. Drama 3 bahasa
5. Dance

Hiburan :
1. Maid Cafe
2. Obake House (rumah hantu)


Jumat, 27 Desember 2013

Malam Warna Warni



Alam tidak mengizinkan kita mengagungkan nama Nya dengan cara yang sama.

Pagi itu kita tidak melihat altar kudus bersamaan. Kita juga tidak menyanyikan lagu yang sama untuk menyambut kelahiran Nya. Dalam hening, kuakui hatiku sempat berbisik. Seandainya saja, desahku pendek. Aku tak berani berharap banyak, jika itu tentang nama mu dan Tuhan.

Satu yang perlu kau tau, sejak awal aku telah mempersiapkan rasa ikhlas yang sedalam-dalamnya.
Tak perlu terlalu banyak kau titipkan cemas dan risau padaku, aku baik-baik saja.

Tapi jika memang mencintaimu adalah kutukan, aku tidak perlu ragu untuk mengamininya. Aku telah duluan menikmati perasaan indah itu, dalam diam, jauh hari sebelum aku mampu mengintip rongga matamu.

Malam itu, di hari natal, malam warna-warni itu.

Kita habiskan waktu, menikmati tontonan di panggung teater tepi pantai itu.

Puisi terakhir yang dimusikalisasikan tetiba menggelitik sanubariku. 

Aku benar-benar tak peduli apa makna yang sebenarnya ingin disampaikan si penulis kepada kita. Aku terhipnotis dalam makna yang rasanya begitu dekat dengan hatiku. Setiap kalimatnya menghasilkan pertanyaan baru dalam hatiku, pertanyaan yang bahkan aku sendiri tak berani menjawabnya. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa mengintip matamu, berharap ada pertanyaan yang sampai ke dasar hatimu.

~
Bila ada warna pada malam, seberapa murni rindu yang kau siapkan untuk kepulanganku?
(Jika memang ada saatnya kita harus berpisah, aku dan kau harus pergi ke arah yang tak sama, apakah cerita yang sedang kita rajut akan menjadi penghangat di saat kita sama-sama direngut dingin?)

Seperti kau tahu, kepergian selalu akan menjajah ranah kepulangan.
(Apakah kau akan pulang ke tempat yang sama sebelum kau berangkat pergi, Sayang?)

Dan mimpi, akan mempermainkan, kebimbanganmu.
(Apakah mimpi ini terlalu tinggi untuk kita? Apakah benar semua mimpi ini hanya mempermainkan kita? Apakah kau merasakan kebimbingan yang sama sepertiku?)

Mulailah berhitung, waktu berjalan, aku tengah berkemas. Mulailah berhitung, waktu berjalan, aku tengah berkemas.
(Apa yang sedang kau pikirkan tentang masa depanmu? Adakah aku di sana? Aku tidak berani berpikir terlalu panjang. Akupun tidak bisa menjanjikan waktu, yang aku punya sekarang hanyalah rasa. Rasa yang memohon padaku setiap detik, agar aku menikmatinya. Akupun menikmatinya, sembari mempersiapkan bekal yang banyak, bekal ikhlas dan senyum air mata.)

Berdirilah di depan pintu. Angin musim dingin yang kutiupkan. Dari sini kan mengantarkan kepada kenangan. Betapa pun pahitnya tetaplah berharap.
(Adakah kau rasa getaran yang sama, ketika aku menggenggam tanganmu lebih erat? Betapapun pahitnya, bolehkah aku tetap berharap pada kisah ini? Dan bagaimanapun harapan itu tidak ada, bolehkah aku tetap berdoa untuk namamu?)

Sesungguhnya kau telah merencanakan kepergian, dan aku menyetujuinya. Itulah mengapa aku tak sepenuhnya mau kau hadir dan tinggal berangkat. Selain sedikit doa, selebihnya kuhanya membawa sejumlah surat-surat yang tak sempat kukirimkan.
(Aku yakin. Kau dan aku sama-sama telah mempersiapkan hati untuk menyetujui perpisahan. Dan karena itulah, sekarang kita benar-benar menikmati rasa yang sama-sama ada. Demi melupakan perpisahan yang kita tidak pernah tahu kapan akan tiba. Apakah benar doaku masih sedikit, Tuhan? Apakah masih bisa kupanjatkan doa yang sama lagi malam ini? Tuhan, jangan pisahkan kami.)

Dari negeri warna-warni, sejumlah surat baru tetap ku tulis. Tuk mengisi malam, tuk mencabut duri. Dari pulas tidurmu. Aku tak perlu mengatakan, agar kau berhenti menangis. Karena kau sangat tahu perubahan cuaca. Bila sempat kau lihat warna dalam malam, itu bukan buah dari dusta.
(Tak ada yang bisa kulakukan selain mencoba menuliskan huruf-huruf yang menggantung di setiap tidurku, kadang sakit rasanya. Banyak yang ingin kukatakan, tapi aku tak perlu mengatakannya. Aku tak ingin merusak kebahagiaan yang sama-sama sedang kita siapkan untuk perpisahan. Mungkin saja besok kita tidak bersama lagi. Mungkin rasa ini terlalu dini bagiku, tapi percayalah, kau tak perlu meragukannya.)

Aku tak melupakan ketulusanmu, aku slalu bersyukur. Karena darah masih mengalir. Karena nadi tetap nyeri. Aku tak melupakan ketulusanmu, aku slalu bersyukur. Karena darah masih mengalir. Karena nadi tetap nyeri.
(Ya. Manis dan pahit. Yang telah lewat dan yang akan menghadang. Akan selalu ku ingat. Terimakasih telah memilihku.)
~

Puisi berakhir membuat nyawaku kembali ke kursiku. Aku kembali merasakan genggaman tangan kita. Kulempar senyum untuk wajahmu yang masih menikmati panggung. Tangan kiriku menepuk tangan kanan mu, mataku menangkap matamu, senyum mu memancing senyumku, kita mengakhiri penampilan itu dalam hitungan detik, tapi sudah sejuta pertanyaan melayang-layang di setiap helai rambutku.

Pernah tidak kalian merasakan dua hal yang berbeda sekaligus?

Mencintai seseorang, bermimpi memilikinya seumur hidupmu tapi sekaligus telah mempersiapkan rasa ikhlas yang sedalam-dalamnya? Kalian bahagia bersamanya tapi sekaligus mempersiapkan air mata untuk menatap matanya.

Ya. Kau menghadirkan bahagia dan sakit secara bersamaan.
Akan aku ingat, bagaimana kita melewati malam itu, hari natal kemarin, malam warna-warni.
~

Lagu itu membangunkanku esok pagi. Setiap liriknya membisik indah di daun telingaku. Aku merindukanmu. Aku sudah siap untuk bersamamu. Tapi aku juga harus sudah siap jika memang kau harus pergi.

Dan siang itu, bibirmu seakan mendustaiku, “Kita jauhi semua yang buat kita jadi jauh ya.”
Hatiku tersenyum, tapi segera mempersiapkan air mata.
Pernahkah kau merasakannya?

Ya. Bahagia dan sakit. Bersama-sama.

Jumat, 08 November 2013

Wanita Terburuk

Satu per satu kenangan mendatangiku..

“Aku memang wanita yang buruk” adalah kalimat penutup setiap kali aku berpikir, mengingat masa laluku, lelakiku.. Aku yakin, semua teman, dan semua yang mengenalku juga berpikir hal yang sama..

Wanita mana yang bisa dikatakan baik, ketika dia telah mengatakan “aku mencintaimu” kepada 7 lelaki berbeda dalam waktu 6 tahun?? Lalu menikmati waktu bersama lelaki lain, sekalipun sedang mengikat status dengan lelaki yang berbeda pula?

Tidak cukup sampai di situ.. Aku merasa begitu menjijikan ketika mengingat semua yang telah aku lalui.. Mengingat semua kebodohan-kebodohan sama yang telah aku lakukan.. Mengingat kembali bagaimana aku belum berubah, aku yang hingga sekarang belum mampu belajar dari kesalahan..

“Tidak ada laki-laki baik yang pantas mendambakanku sebagai wanitanya” adalah kalimat paling menyedihkan yang aku katakan untuk diriku sendiri, untuk menghukum diriku sendiri..

Setiap malam, aku menangis untuk semua kesendirian yang terasa begitu setia menemaniku.. Rasa takut yang selalu menyelimutiku.. Bahwa tidak akan ada satu makhluk pun yang akan menangis untuk kepergianku, baik untuk sementara ataupun selamanya..

Setiap hari yang aku lakukan hanyalah melupakan masa lalu dengan menemukan sesuatu yang baru.. Dan sesuatu yang baru pun akan segera terlupakan oleh sesuatu yang lebih baru lagi.. Semua hanya masalah waktu.. Tanpa terasa, aku terlalu serius melupakan masa lalu.. Tapi lupa untuk memaafkannya..

Apa yang harus ku lakukan.. Berkali-kali aku berpikir.. Apakah aku terlalu menyeriusi hal ini? Atau aku seharusnya tidak berpikir terlalu jauh? Apa sebaiknya aku tetap menikmati hariku seperti biasanya, belajar dengan rajin, menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman, atau membantu orangtua mengurusi rumah.. Bermain-main dengan segala hal seperti  yang dilakukan kebanyakan orang seumurku?

Tapi, bagaimanapun aku mencoba menikmati hariku, mereka selalu hadir.. Bagaimana ini? Aku tidak bisa benar-benar mencintai siapapun lagi.. Apakah itu bukan sebuah masalah besar? Atau ini hanya masalah kelabilan anak remaja? Akankah ini semua membawa ku kepada waktu yang baik-baik saja?

Ketika aku mencoba membuka hati lagi, menemukan seorang yang baru, maka seorang di masa lalu akan datang, tersenyum kecut, lalu sesuatu dalam hatiku bergetar. Sesuatu itu seperti menelanjangiku dan membuatku malu. Membuatku tersudut pada tempat yang tidak ada seorang pun. Aku kemudian merasa tidak pantas mencintai siapapun lagi. Aku kemudian merasa semua kata cinta yang pernah keluar dari mulutku adalah hina. Aku kemudian merasa semua rasa cinta yang pernah ada di hatiku adalah dosa. Aku kemudian merasa semua kebahagiaanku yang disaksikan semua orang tak berhenti menertawakanku. Aku kemudian mati.

Setiap kesendirian menjemputku, ntah mengapa yang aku bisa hanyalah menghubungi masa laluku. Aku selalu mencoba memilih satu di antara mereka setiap malam, dini hari tepatnya.. Jika yang kupilih tidak membalas pesanku, maka aku akan memilih seorang yang lain, hingga kudapat sebuah nama.. Setelah ada yang membalas pesanku, kemudian aku akan berkomunikasi singkat dengan mereka..  Dan hanya itu cara yang paling cepat membuatku kembali tertidur..

Tapi jelas aku tidak bisa melakukan itu setiap malam.. Aku tidak mungkin mengganggu dan mengurusi hidup mereka lebih jauh.. Semua kata perpisahan untuk mereka, selalu keluar dari mulutku.. Jelas aku bukanlah orang yang pantas untuk itu.. Sekalipun sebenarnya malam dimana aku memilih untuk tidak menghubungi siapapun adalah malam paling menyakitkan untuk ku..

Malam-malam seperti itulah yang sekarang sedang aku nikmati, sendiri.. Malam yang selalu datang menghukumku, menghakimi semua kehinaanku.. Malam dimana otakku bekerja begitu keras untuk membunuh semua masa lalu.. Malam dimana aku tak dapat berpikir.. Hanya menangislah caraku untuk menikmati malam.. Membuatku lelah, dan tertidur, lalu terbangun dengan badan yang terasa semakin memburuk, padahal aku tidak menderita sakit apa-apa..

Apa yang harus aku lakukan...

Aku ingin mencintai seseorang dengan sepenuh hatiku... Aku benar-benar ingin merasakan cinta sesungguhnya... Aku benar-benar ingin memiliki seseorang yang akan aku pertahankan sekuat tenagaku... Aku benar-benar ingin menemukan orang yang akan menerima nyawaku sebagai pengorbananku... Aku benar-benar ingin mencintai orang lain, seperti aku mencintai diriku sendiri... Aku benar-benar ingin, Tuhan...

Tapi, masihkah waktu mengizinkanku bertemu dengan seseorang yang pantas mencintai wanita buruk seperti ku?

“Jika ada lelaki yang ditakdirkan untuk mendambakanmu sebagai wanitanya, maka dia adalah lelaki yang buruk. Karena hanya wanita buruk yang pantas mendapatkan lelaki buruk.” – aku tertegun mendengar kata hatiku sendiri.

Jika memang ini pertanda aku akan memasuki gerbang kedewasaan, maka aku akan menikmati semua kesendirian ini sampai kapanpun itu. Ntah sebagai pengorbananku, ntah sebagai hukumanku.

Aku ingin..
Dewasa..

Mencintaiku adalah Kebodohan Terbesarmu.

Satu per satu kenangan mendatangiku..

“Aku memang wanita yang buruk” adalah kalimat penutup setiap kali aku berpikir, mengingat masa laluku, lelakiku.. Aku yakin, semua teman, dan semua yang mengenalku juga berpikir hal yang sama..

Wanita mana yang bisa dikatakan baik, ketika dia telah mengatakan “aku mencintaimu” kepada 7 lelaki berbeda dalam waktu 6 tahun?? Lalu menikmati waktu bersama lelaki lain, sekalipun sedang mengikat status dengan lelaki yang berbeda pula?

Tidak cukup sampai di situ.. Aku merasa begitu menjijikan ketika mengingat semua yang telah aku lalui.. Mengingat semua kebodohan-kebodohan sama yang telah aku lakukan.. Mengingat kembali bagaimana aku belum berubah, aku yang hingga sekarang belum mampu belajar dari kesalahan..

“Tidak ada laki-laki baik yang pantas mendambakanku sebagai wanitanya” adalah kalimat paling menyedihkan yang aku katakan untuk diriku sendiri, untuk menghukum diriku sendiri..

Setiap malam, aku menangis untuk semua kesendirian yang terasa begitu setia menemaniku.. Rasa takut yang selalu menyelimutiku.. Bahwa tidak akan ada satu makhluk pun yang akan menangis untuk kepergianku, baik untuk sementara ataupun selamanya..

Setiap hari yang aku lakukan hanyalah melupakan masa lalu dengan menemukan sesuatu yang baru.. Dan sesuatu yang baru pun akan segera terlupakan oleh sesuatu yang lebih baru lagi.. Semua hanya masalah waktu.. Tanpa terasa, aku terlalu serius melupakan masa lalu.. Tapi lupa untuk memaafkannya..

Apa yang harus ku lakukan.. Berkali-kali aku berpikir.. Apakah aku terlalu menyeriusi hal ini? Atau aku seharusnya tidak berpikir terlalu jauh? Apa sebaiknya aku tetap menikmati hariku seperti biasanya, belajar dengan rajin, menghabiskan banyak waktu dengan teman-teman, atau membantu orangtua mengurusi rumah.. Bermain-main dengan segala hal seperti  yang dilakukan kebanyakan orang seumurku?

Tapi, bagaimanapun aku mencoba menikmati hariku, mereka selalu hadir.. Bagaimana ini? Aku tidak bisa benar-benar mencintai siapapun lagi.. Apakah itu bukan sebuah masalah besar? Atau ini hanya masalah kelabilan anak remaja? Akankah ini semua membawa ku kepada waktu yang baik-baik saja?

Ketika aku mencoba membuka hati lagi, menemukan seorang yang baru, maka seorang di masa lalu akan datang, tersenyum kecut, lalu sesuatu dalam hatiku bergetar. Sesuatu itu seperti menelanjangiku dan membuatku malu. Membuatku tersudut pada tempat yang tidak ada seorang pun. Aku kemudian merasa tidak pantas mencintai siapapun lagi. Aku kemudian merasa semua kata cinta yang pernah keluar dari mulutku adalah hina. Aku kemudian merasa semua rasa cinta yang pernah ada di hatiku adalah dosa. Aku kemudian merasa semua kebahagiaanku yang disaksikan semua orang tak berhenti menertawakanku. Aku kemudian mati.

Setiap kesendirian menjemputku, ntah mengapa yang aku bisa hanyalah menghubungi masa laluku. Aku selalu mencoba memilih satu di antara mereka setiap malam, dini hari tepatnya.. Jika yang kupilih tidak membalas pesanku, maka aku akan memilih seorang yang lain, hingga kudapat sebuah nama.. Setelah ada yang membalas pesanku, kemudian aku akan berkomunikasi singkat dengan mereka..  Dan hanya itu cara yang paling cepat membuatku kembali tertidur..

Tapi jelas aku tidak bisa melakukan itu setiap malam.. Aku tidak mungkin mengganggu dan mengurusi hidup mereka lebih jauh.. Semua kata perpisahan untuk mereka, selalu keluar dari mulutku.. Jelas aku bukanlah orang yang pantas untuk itu.. Sekalipun sebenarnya malam dimana aku memilih untuk tidak menghubungi siapapun adalah malam paling menyakitkan untuk ku..

Malam-malam seperti itulah yang sekarang sedang aku nikmati, sendiri.. Malam yang selalu datang menghukumku, menghakimi semua kehinaanku.. Malam dimana otakku bekerja begitu keras untuk membunuh semua masa lalu.. Malam dimana aku tak dapat berpikir.. Hanya menangislah caraku untuk menikmati malam.. Membuatku lelah, dan tertidur, lalu terbangun dengan badan yang terasa semakin memburuk, padahal aku tidak menderita sakit apa-apa..

Apa yang harus aku lakukan...

Aku ingin mencintai seseorang dengan sepenuh hatiku... Aku benar-benar ingin merasakan cinta sesungguhnya... Aku benar-benar ingin memiliki seseorang yang akan aku pertahankan sekuat tenagaku... Aku benar-benar ingin menemukan orang yang akan menerima nyawaku sebagai pengorbananku... Aku benar-benar ingin mencintai orang lain, seperti aku mencintai diriku sendiri... Aku benar-benar ingin, Tuhan...

Tapi, masihkah waktu mengizinkanku bertemu dengan seseorang yang pantas mencintai wanita buruk seperti ku?

“Jika ada lelaki yang ditakdirkan untuk mendambakanmu sebagai wanitanya, maka dia adalah lelaki yang buruk. Karena hanya wanita buruk yang pantas mendapatkan lelaki buruk.” – aku tertegun mendengar kata hatiku sendiri.

Jika memang ini pertanda aku akan memasuki gerbang kedewasaan, maka aku akan menikmati semua kesendirian ini sampai kapanpun itu. Ntah sebagai pengorbananku, ntah sebagai hukumanku.

Aku ingin..
Dewasa..